BANTEN — Pekan lalu, Samsung sempat memperlihatkan sekilas perangkat Android XR mereka di ajang Galaxy Unpacked. Kini, melalui wawancara dengan The Korea Times, perusahaan asal Korea Selatan itu membeberkan lebih banyak detail, termasuk strategi harga dan pendekatan integrasi yang membedakannya dari kompetitor.
Samsung menegaskan bahwa kacamata pintar ini bukanlah perangkat yang ingin menggantikan ponsel. Sebaliknya, perangkat ini disebut sebagai "ekstensi dari pengalaman yang berpusat pada smartphone."
Pendekatan ini terlihat dari beberapa fitur yang sudah diperagakan. Pengguna bisa mengontrol kacamata melalui gestur tangan di jam tangan Wear OS. Foto yang diambil dari kacamata juga bisa langsung muncul sebagai notifikasi di ponsel. Speaker bawaan kacamata pun disebut akan memberikan prioritas koneksi ke Galaxy Buds jika terhubung.
Samsung mengklaim kacamatanya dibuat dengan standar durabilitas dan reliabilitas yang sama seperti ponsel Galaxy. Namun, fokus utama pengembangannya adalah membuat perangkat yang lebih ringan dan nyaman dipakai dibandingkan tawaran Meta.
Dari sisi privasi, Samsung menyematkan fitur keamanan tambahan. Kacamata akan secara otomatis berhenti merekam jika lampu indikator privasi tertutup atau saat perangkat tidak dikenakan. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi kekhawatiran publik terhadap rekaman diam-diam yang kerap menjadi masalah perangkat sejenis.
Soal harga, Samsung hanya memberikan bocoran samar. Perangkat ini akan berada di "kisaran premium", namun perusahaan menargetkan banderol yang "masih masuk akal" (reasonable). Sebagai perbandingan, kacamata pintar terbaru Meta dibanderol mulai dari 299 dolar AS (sekitar Rp 4,9 juta).
Belum ada angka pasti, namun pernyataan Samsung ini memberi sinyal bahwa harganya kemungkinan tidak akan selangit seperti beberapa perangkat mixed reality lain yang bisa menembus ribuan dolar.
Samsung menargetkan kacamata Android XR perdananya ini akan dirilis pada akhir tahun ini. Belum ada informasi lebih lanjut mengenai ketersediaan di pasar Indonesia.