CILEGON — Kolaborasi antara BUMN dan pemerintah daerah di Cilegon, Banten, kini tak sekadar mengelola sampah plastik. Lewat Program Rumah Hijau Nusantara, PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) bersama Pemkot Cilegon membangun rantai ekonomi dari limbah plastik yang sebelumnya tak bernilai.
Division Head CSR PGN Krisdyan Widagdo Adhi mengatakan program ini merupakan kelanjutan dari berbagai inisiatif perusahaan dalam membangun ekosistem pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular. PGN menggandeng Kertabumi Recycling Centre, National Geographic Indonesia, dan Bank Sampah Al-Bustaniyah Cilegon untuk memperkuat rantai nilai, mulai dari pengolahan hingga pemasaran.
"Melalui program ini, kami ingin menunjukkan bahwa sampah bukan lagi dipandang sebagai limbah, melainkan sumber daya yang memiliki nilai ekonomi apabila dikelola dengan baik," ujar Krisdyan dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.
Perusahaan telah menyerahkan mesin pencacah (shredder), mesin extruder, cold press, scroll and table saw, serta oven kepada Bank Sampah Al-Bustaniyah. Bantuan ini diharapkan meningkatkan kapasitas produksi sekaligus kualitas produk daur ulang.
Dalam dua bulan terakhir, program ini berhasil mengolah 871 kilogram sampah plastik menjadi produk bernilai tambah. Mulai dari furnitur, tempat tisu, gantungan kunci, hingga tasbih—semuanya dari limbah plastik yang dikumpulkan masyarakat.
Krisdyan menekankan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah ditentukan oleh terciptanya ekosistem yang mampu menjaga keberlanjutan aktivitas ekonomi masyarakat. Ke depan, PGN akan berperan sebagai penghubung offtaker bagi sebagian produk hasil olahan Bank Sampah Al-Bustaniyah melalui program pendampingan UMKM dan komersialisasi pasar.
"Produk hasil olahan Bank Sampah Al-Bustaniyah diharapkan dapat dimanfaatkan, termasuk oleh PGN, sehingga tercipta perputaran ekonomi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat," katanya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Cilegon, Sabri Malyudin, mengingatkan bahwa tantangan pengelolaan sampah tidak hanya terletak pada penyediaan fasilitas, tetapi juga pembentukan budaya peduli lingkungan. Menurutnya, pengembangan ekonomi sirkular perlu diikuti penguatan hilirisasi agar produk hasil pengolahan sampah memiliki pasar yang berkelanjutan.
"Ke depan, yang perlu diperkuat adalah aspek hilirisasi. Produk hasil pengolahan sampah harus memiliki pasar sehingga memberikan nilai tambah bagi masyarakat," ujar Sabri.
Ia menilai ada peluang kolaborasi dengan Dinas Koperasi untuk memperluas pemasaran produk, termasuk melalui berbagai pameran dan kegiatan daerah. Sabri berharap Program Rumah Hijau Nusantara terus dikembangkan agar manfaatnya semakin luas bagi warga Cilegon.