BANTEN — Anak usaha PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) ini mencatat pendapatan Rp 4,69 triliun sepanjang Januari–Juni 2026, naik 2,18 persen secara tahunan. Bisnis penyewaan menara masih menjadi tulang punggung dengan kontribusi 81,7 persen terhadap total pendapatan.
EBITDA Mitratel mencapai Rp 3,89 triliun dengan margin 82,9 persen. Adapun margin laba bersih berada di level 23,7 persen. Hingga akhir Juni, perusahaan mengelola 40.563 menara, dengan 59 persen di antaranya berada di luar Pulau Jawa.
Direktur Utama Mitratel Theodorus Ardi Hartoko mengatakan, capaian ini merupakan hasil transformasi yang dijalankan konsisten sejalan dengan arah Danantara dan Telkom Group. Perusahaan disebut terus berevolusi menjadi penyedia infrastruktur digital terintegrasi melalui pengembangan fiber, fixed wireless access (FWA), hingga power-as-a-service (PaaS).
“Mitratel terus berevolusi dari perusahaan menara menjadi penyedia infrastruktur digital terintegrasi melalui pengembangan solusi fiber, fixed wireless access (FWA), hingga power-as-a-service (PaaS),” ungkap Theodorus dalam keterangannya, Senin (3/8).
Jaringan fiber tumbuh 13,9 persen menjadi 74.779 km billable length. Sementara kolokasi naik 10,3 persen menjadi 23.303 tenant, mendorong tenancy ratio ke level 1,57x.
Mitratel juga memanfaatkan kecerdasan buatan untuk efisiensi operasional. Inovasi AIONIC One digunakan untuk meningkatkan akurasi identifikasi perangkat di setiap menara, memperkuat produktivitas aset, hingga mempercepat pengambilan keputusan berbasis data.
Ke depan, Theodorus optimistis prospek bisnis tetap positif. Rencana pemerintah melelang spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz dinilai akan mendorong ekspansi jaringan operator, terutama di wilayah pedesaan dan luar Pulau Jawa.
“Kami berkomitmen memperkuat posisi sebagai Next Generation Tower Company yang menghadirkan solusi infrastruktur digital end-to-end untuk mendukung percepatan transformasi digital Indonesia,” kata Theodorus.
Sebelumnya, Telkomsel ditetapkan sebagai pemenang terbesar lelang spektrum tersebut. Anak usaha TLKM itu memenangkan total alokasi 100 MHz, terdiri atas 2x10 MHz di pita 700 MHz senilai Rp 642,5 miliar dan 80 MHz di pita 2,6 GHz senilai Rp 545,8 miliar.
Menteri Komdigi Meutya Hafid mengatakan, penetapan pemenang lelang menjadi langkah penting mempercepat transformasi digital nasional. Tambahan spektrum diharapkan meningkatkan kapasitas jaringan seluler sehingga masyarakat menikmati internet lebih cepat, stabil, dan terjangkau.
“Komdigi memastikan bahwa lelang frekuensi ini memberikan manfaat nyata dan merata bagi masyarakat. Ujungnya harus dirasakan langsung oleh masyarakat di level akar rumput,” ujar Meutya dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (21/7).
Lelang ini diproyeksikan memberikan potensi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sekitar Rp 6 triliun pada tahap awal. Dalam 10 tahun, total potensi penerimaan negara diperkirakan mencapai Rp 29,9 triliun. Pemenang seleksi juga wajib menyediakan layanan 5G dengan cakupan minimal 51 persen populasi nasional pada tahun kelima. Pemerintah menargetkan kecepatan rata-rata mobile broadband mencapai 100 Mbps pada 2029.
Kombinasi pita 700 MHz sebagai spektrum low-band diharapkan menjangkau wilayah pelosok dan area dalam bangunan, sementara pita 2,6 GHz sebagai mid-band menjadi kapasitas utama layanan 5G. Bagi Mitratel, posisi ini menjadi peluang strategis menjadi mitra utama operator dalam pembangunan infrastruktur digital nasional.