MI Al-Wathon di Lebak Terancam Roboh, 40 Siswa Terpaksa Belajar di Ruang Guru dan Kelas Gabungan

Penulis: Wisnu Wardana  •  Kamis, 06 Agustus 2026 | 20:24:01 WIB
Ruang kepala sekolah dan perpustakaan MI Al-Wathon di Lebak runtuh total, memaksa 40 siswa belajar di ruang guru dan kelas gabungan.

LEBAK — Enam orang tenaga pengajar honorer di MI Al-Wathon bertahan mengajar dengan honorarium Rp150.000 hingga Rp200.000 per bulan, di tengah fasilitas sekolah yang nyaris tidak layak. Mereka melayani 40 siswa yang setiap harinya harus menempuh perjalanan kaki sekitar 30 menit melewati medan pedalaman yang terjal untuk sampai ke madrasah yang berdiri sejak 2007 itu.

Kondisi darurat ini mendorong Mahasiswa KKN Nusantara Kelompok 4 menginisiasi gerakan penggalangan donasi. Berbeda dari program renovasi pada umumnya, mereka mengusung konsep ekoteologi yang menekankan pembangunan fasilitas ramah lingkungan dan selaras dengan nilai keagamaan.

Bangunan Runtuh dan Sistem Kelas Gabungan

Kerusakan parah tampak di sejumlah titik vital madrasah. Ruang kepala sekolah dan perpustakaan telah runtuh total, fasilitas sanitasi rusak, sementara plafon bocor di berbagai sudut akibat kayu penyangga atap yang lapuk dimakan usia.

Keterbatasan ruang membuat pihak sekolah menerapkan sistem kelas gabungan. Satu ruangan terpaksa menampung dua tingkatan kelas sekaligus karena hanya tersisa tiga ruang utama yang layak digunakan.

Sebagian siswa bahkan tidak punya pilihan selain menumpang belajar di ruang guru. Kondisi ini memicu kekhawatiran orang tua murid akan risiko keselamatan anak-anak mereka sewaktu-waktu.

Dedikasi Guru di Tengah Keterbatasan

Di balik keterbatasan fasilitas, semangat para pendidik tidak surut. Beberapa guru rutin menempuh perjalanan terjal dan berbatu untuk mengajar di cabang Sampang, kelas khusus yang menampung sekitar 15 hingga 20 anak warga mualaf suku Baduy.

Dari enam tenaga pengajar yang ada, baru sebagian kecil mengantongi sertifikasi. Meski telah mengabdi belasan hingga puluhan tahun, mereka tetap bertahan membimbing para siswa.

Batas Akhir Donasi 14 Agustus 2026

Masyarakat yang ingin berpartisipasi dapat menyalurkan bantuan melalui beberapa rekening resmi. Donasi untuk BNI (1797341297) atas nama Pamela Walzila Azzah, serta BCA (4922449043), SeaBank (901619754565), dan Bank Jago (501827539778) atas nama Amanda Roja Agustin.

Panitia mengimbau donatur menambahkan kode unik angka 04 di akhir nominal transfer, misalnya Rp100.004. Konfirmasi bukti transfer dapat dikirimkan kepada Ika Aulia Safitri (0813-8976-6679) atau Regita Komalasari (0878-4210-6538).

Pengumpulan donasi dibuka hingga Jumat, 14 Agustus 2026. Uluran tangan dari masyarakat luas diharapkan mampu mengembalikan hak anak-anak Kampung Cikapek untuk mengenyam pendidikan di ruang kelas yang aman dan representatif.

Reporter: Wisnu Wardana
Sumber: jurnalklik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top