BPBD Lebak Minta Warga Pesisir Selatan Tingkatkan Kesiapsiagaan Hadapi Ancaman Gempa Megathrust dan Tsunami

Penulis: Vikri Alfandi  •  Senin, 17 Agustus 2026 | 09:58:01 WIB
Warga pesisir selatan Lebak mengikuti simulasi evakuasi untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi gempa megathrust dan tsunami.

LEBAK — BPBD Kabupaten Lebak menegaskan bahwa wilayah pesisir selatan, khususnya Kecamatan Bayah, Cilograng, dan sekitarnya, memiliki potensi tinggi terdampak gempa megathrust. Kondisi ini disebabkan oleh pertemuan lempeng Samudera Hindia dan Benua Asia yang membentang di selatan Jawa, termasuk perairan selatan Banten.

Kepala BPBD Lebak, Sukanta, mengatakan potensi tersebut bukan sekadar asumsi ilmiah. BMKG telah secara resmi menetapkan Lebak Selatan sebagai zona rentan gempa megathrust yang dapat memicu gelombang tsunami. Bahkan, kata dia, kearifan lokal masyarakat setempat juga telah lama mewaspadai ancaman ini.

"Lebak bagian daerah potensi yang rentan terhadap gempa dan tsunami, sehingga masyarakat dapat meningkatkan kesiapsiagaan," ujar Sukanta dalam keterangannya, Senin.

Waktu Evakuasi Hanya 10-20 Menit

Sukanta menjelaskan, jika gempa megathrust terjadi, gelombang tsunami diperkirakan tiba dalam waktu singkat, yakni sekitar 10 hingga 20 menit. Dalam rentang waktu itu, masyarakat yang berada di pesisir harus segera bergerak menuju tempat yang lebih tinggi.

Untuk meminimalisasi risiko, pemerintah telah membangun infrastruktur penyelamatan berupa gedung shelter di Desa Muara Binuangeun. Selain itu, terdapat 120 lokasi jalur evakuasi yang dilengkapi rambu petunjuk arah menuju titik kumpul di perbukitan.

"Jika terjadi gempa megathrust yang memicu tsunami kurang lebih 10-20 menit, maka masyarakat harus bergerak cepat memanfaatkan infrastruktur dengan melintasi jalur evakuasi dan arah petunjuk ke bukit serta gedung shelter," jelasnya.

Delapan Desa Tangguh Bencana Dibentuk

BPBD Lebak tidak hanya mengandalkan infrastruktur fisik. Lembaga itu juga membentuk delapan desa tangguh bencana (destana) yang tersebar di kawasan pesisir selatan. Warga di desa-desa tersebut terus diberikan pelatihan untuk mengurangi risiko kebencanaan secara mandiri.

Pelatihan yang diberikan mencakup simulasi evakuasi dan pemahaman tanda-tanda alam. Tujuannya, warga tidak panik dan tahu langkah yang harus diambil saat gempa besar terjadi.

"Kami masyarakat Lebak selatan tetap meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan ancaman potensi bencana gempa megathrust dan tsunami," tuturnya.

Kolaborasi dengan BMKG Lewat Sekolah Lapang

Upaya mitigasi juga dilakukan melalui kerja sama dengan BMKG. BPBD Lebak menyelenggarakan Sekolah Lapang Geofisika yang melibatkan warga pesisir secara langsung.

Program ini dirancang untuk memberikan pemahaman mendalam tentang gejala alam sebelum tsunami terjadi. Warga diajari cara membaca informasi peringatan dini dan memahami rute evakuasi yang telah disiapkan.

Dengan kombinasi infrastruktur, pelatihan, dan edukasi berkelanjutan, diharapkan warga Lebak Selatan mampu menyelamatkan diri secara mandiri ketika bencana datang.

Reporter: Vikri Alfandi
Sumber: banten.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top