Dieng Culture Festival 2026 Resmi Dibuka, Ada Jazz Atas Awan hingga Ruwatan Rambut Gimbal

Penulis: Vikri Alfandi  •  Jumat, 28 Agustus 2026 | 23:32:32 WIB
Jazz Atas Awan menyuguhkan musik jazz dengan latar matahari terbit di kompleks Candi Arjuna pada Dieng Culture Festival 2026.

BANTEN — Dataran tinggi Dieng kembali berubah menjadi panggung budaya terbesar di Jawa Tengah. Dieng Culture Festival 2026 yang berlangsung selama tiga hari, 28-30 Agustus, tidak sekadar menampilkan ritual adat, tetapi juga menjadi barometer kekuatan pariwisata berbasis komunitas di Indonesia. Kementerian Pariwisata (Kemenpar) bahkan menempatkan event ini sebagai ujung tombak promosi destinasi autentik ke kancah global.

“Menjadikan Dieng Culture Festival sebagai wajah pariwisata Indonesia yang autentik dan berdaya saing global,” ujar Sekretaris Deputi Bidang Pengembangan Penyelenggaraan Kegiatan (Event) Kemenpar, Titik Lestari, saat pembukaan di Banjarnegara, Jumat (28/8).

Rangkaian Acara: Dari Jazz di Ketinggian hingga Ritual Memotong Rambut Gimbal

DCF 2026 tidak hanya soal panggung musik. Ada empat agenda utama yang bisa kamu sasar selama berada di Dieng. Pertama, Jazz Atas Awan yang menyuguhkan musik jazz dengan latar matahari terbit di antara kompleks Candi Arjuna. Suhu yang bisa mencapai 5 derajat Celsius di pagi hari justru menjadi pengalaman tersendiri.

Kedua, ada Ruwatan Anak Berambut Gimbal, ritual sakral warisan leluhur yang menjadi inti filosofis festival ini. Prosesi ini dipercaya sebagai bentuk pembersihan diri dan tolak bala, dan menjadi daya tarik utama bagi wisatawan mancanegara yang ingin melihat kearifan lokal Jawa.

Selain itu, ada Festival Domba Batur dan Festival Kopi yang mengangkat potensi agraris setempat. Bagi kamu yang ingin membawa oleh-oleh, area Pameran UMKM akan memenuhi pelataran desa dengan kerajinan tangan dan makanan khas.

Dampak Ekonomi ke Warga Lokal

Kehadiran ribuan pengunjung berdampak langsung pada kantong warga. Menurut Titik, jumlah UMKM yang berpartisiparan tahun ini membeludak dibanding data awal yang diterima Kemenpar.

“Kita lihat UMKM yang menjajakan jajanan tadi sudah laris terjual. Mudah-mudahan masyarakat menikmati dampak dari penyelenggaraan ini,” katanya menambahkan.

Kemenpar mencatat event ini menjadi salah satu dari 10 kegiatan terbaik dalam program Kharisma Event Nusantara. Artinya, promosi DCF tidak hanya dilakukan di dalam negeri, tetapi juga digencarkan di panggung internasional melalui platform promosi Kemenpar di luar negeri.

Mengapa Event Ini Penting untuk Target Wisatawan?

Di tengah target ambisius 17,6 juta kunjungan wisatawan mancanegara dan 1,2 miliar pergerakan wisatawan nusantara, DCF dinilai punya kekuatan yang tidak dimiliki event lain: ia tumbuh dari akar rumput. Bukan proyek pemerintah, melainkan inisiatif warga Desa Dieng Kulon yang kemudian didampingi negara sejak 2021.

Sepanjang festival berlangsung, Kemenpar akan melakukan survei dampak penyelenggaraan hingga hari ketiga. Hasil survei ini akan menjadi bahan evaluasi untuk mengukur tingkat kebermanfaatan kegiatan dari tahun ke tahun, baik dari sisi ekonomi maupun tata kelola.

Tips Menghadiri Dieng Culture Festival

Jika kamu berencana hadir, siapkan jaket tebal atau pakaian hangat. Suhu udara di Dieng bisa turun drastis di malam hari hingga menjelang subuh, terutama saat sesi Jazz Atas Awan. Disarankan datang lebih awal untuk mendapatkan spot terbaik di area Candi Arjuna.

Untuk akomodasi, kamu bisa memilih homestay di Desa Dieng Kulon atau menginap di kawasan Kejajar dan Wonosobo yang berjarak sekitar 30-45 menit berkendara. Informasi tiket dan detail acara terkini dapat dikonfirmasi melalui akun media sosial resmi Dieng Culture Festival atau dinas pariwisata setempat.

Dieng bukan sekadar destinasi dingin dengan candi kuno. Lewat festival ini, kamu menyaksikan bagaimana sebuah komunitas kecil menjaga tradisi sambil membuka pintu bagi dunia.

Reporter: Vikri Alfandi
Sumber: jateng.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top