PANDEGLANG — Wakil Gubernur Banten Achmad Dimyati Natakusumah membuka Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Kabupaten Pandeglang, Jumat (28/8/2026). Ia menekankan bahwa gedung dan fasilitas yang lengkap tidak akan bermakna tanpa didukung oleh kualitas guru yang mumpuni.
“Sekolah ini harus dirawat dan dijaga. Saya meminta kepada kepala sekolah untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan, termasuk para gurunya,” ujar Dimyati di hadapan para pendidik dan siswa.
Kompleks SRT 1 Kabupaten Pandeglang berdiri di atas lahan seluas 11,3 hektare yang merupakan hibah dari Pemerintah Kabupaten Pandeglang. Pembangunan fisik sekolah mendapat dukungan anggaran dari pemerintah pusat.
Kepala SRT 1 Kabupaten Pandeglang Siwi Astuti menyebut sekolah memiliki 36 ruang kelas serta fasilitas asrama terpadu. Seluruh sarana ini disiapkan untuk menunjang sistem pembelajaran berasrama yang mengedepankan lingkungan aman dan nyaman bagi siswa.
Kehadiran sekolah ini langsung dirasakan manfaatnya oleh orang tua siswa. Ahmad Saruri (32), warga Kampung Pasir Kuntul, mengaku terbantu karena putrinya, Nur Hikmah, kini bersekolah di jenjang SMP tanpa dipungut biaya sepeser pun.
“Saya merasa senang. Di sini semua gratis, jadi saya tidak terlalu memikirkan biaya sehari-hari anak di sekolah,” kata Saruri. Ia berharap anak keduanya yang duduk di kelas 3 SD bisa menyusul kakaknya tahun depan.
Harapan serupa disampaikan seorang ibu asal Desa Kananga, Kecamatan Menes. Ia menitipkan putrinya, Kirania Iktiba, untuk jenjang SMP dengan harapan anaknya menjadi pribadi mandiri.
“Terima kasih, saya bersyukur. Mudah-mudahan anak saya betah, bisa dibimbing dan dibina menjadi anak yang mandiri dan berguna bagi lingkungan sekitarnya,” ujarnya.
Saat ini SRT 1 Kabupaten Pandeglang menampung 474 siswa. Sekolah direncanakan memiliki enam rombongan belajar untuk masing-masing jenjang SD, SMP, dan SMA, dengan kapasitas maksimal 540 siswa.
Siwi Astuti mengatakan untuk jenjang SD masih tersedia kuota bagi calon siswa baru. Kendala terbesar justru datang dari kesiapan mental anak dan orang tua untuk mengikuti pola pendidikan berasrama.
“Untuk SD masih ada kekurangan karena kadang anaknya belum mau atau orang tuanya belum tega melepas anak mereka ke asrama,” jelas Siwi.
Setelah MPLS yang berlangsung hingga 11 September 2026, para siswa akan mengikuti program matrikulasi selama tiga bulan. Tahap ini menjadi masa persiapan mental dan akademik sebelum menjalani kegiatan pembelajaran penuh.
Operasional sekolah tidak hanya diarahkan pada pencapaian akademik. Pembinaan kemandirian siswa menjadi target utama melalui lingkungan pendidikan berasrama, sekaligus membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera di Banten.