Wakil Ketua DPRD Kota Tangsel Salurkan 5.000 Buku Tulis untuk Pelajar hingga Santri Ponpes

Penulis: Alfin Murtado  •  Kamis, 03 September 2026 | 18:51:01 WIB
Wakil Ketua DPRD Kota Tangsel, Maria Teresa Suhardja, menyerahkan bantuan 5.000 buku tulis kepada pelajar dan santri di Kota Tangerang Selatan.

Sebanyak 5.000 buku tulis telah disalurkan kepada pelajar SD, SMP, dan santri pondok pesantren di Kota Tangerang Selatan, Banten, dalam sepekan terakhir. Kegiatan ini diinisiasi Wakil Ketua DPRD Kota Tangsel, Maria Teresa Suhardja, sebagai upaya meringankan beban keluarga kurang mampu sekaligus memperkuat budaya literasi di kalangan generasi muda.

TANGERANG SELATAN — Sebanyak 5.000 buku tulis telah diterima para pelajar di sejumlah lembaga pendidikan Kota Tangerang Selatan, Banten, selama sepekan terakhir. Bantuan itu menjangkau siswa jenjang Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), hingga santri di beberapa pondok pesantren.

Distribusi buku tulis tersebut digerakkan Wakil Ketua DPRD Kota Tangsel, Maria Teresa Suhardja. Ia menyebut kebutuhan seperti buku kerap dianggap sederhana, tetapi nyatanya masih menjadi beban bagi keluarga yang tengah kesulitan ekonomi.

Buku Sederhana, Beban Nyata bagi Keluarga Kurang Mampu

Maria Teresa tergerak setelah membaca laporan media nasional tentang seorang anak SD yang tidak mampu membeli buku dan pena. Nilai kebutuhan itu bahkan kurang dari Rp10.000, sebuah angka yang mungkin terlihat kecil namun sulit dijangkau sebagian orang tua.

“Buku tulis mungkin sederhana, tetapi bagi seorang anak, buku adalah bagian dari proses mereka belajar, menulis, berpikir, dan mengembangkan cita-cita. Kita tidak boleh menganggap kebutuhan pendidikan sebagai sesuatu yang tidak penting,” ujarnya.

Menurut Maria Teresa, persoalan akses terhadap alat tulis tidak boleh dipandang sebelah mata. Perlengkapan belajar merupakan pintu awal anak untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran di sekolah.

Bukan Sekadar Sekolah Formal, Ponpes Juga Jadi Sasaran

Pembagian buku tidak hanya menyasar sekolah dasar dan menengah. Sejumlah pondok pesantren di wilayah Tangsel juga menerima bagian dari 5.000 buku tulis yang disalurkan pekan ini.

“Anak-anak kita, baik yang belajar di SD, SMP maupun di pondok pesantren, memiliki hak yang sama untuk mendapatkan kesempatan belajar dan berkembang. Kita ingin budaya membaca dan menulis tumbuh di semua lingkungan pendidikan,” tuturnya.

Maria Teresa menegaskan langkah ini bukan solusi tunggal atas seluruh persoalan pendidikan dan literasi di Tangsel. Namun ia berharap distribusi buku tulis dapat menjadi pengingat bahwa kebutuhan dasar anak di lapangan tetap harus diperhatikan.

Langkah Kecil yang Diharapkan Menginspirasi

“Ini adalah langkah kecil. Tetapi saya percaya perubahan juga bisa dimulai dari hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten,” kata Maria Teresa.

Ia mengajak lebih banyak pihak ikut ambil peran dalam mendukung pendidikan, baik dari unsur pemerintah, swasta, maupun masyarakat umum. Menurutnya, keterlibatan banyak pihak akan memperluas jangkauan bantuan hingga ke anak-anak yang paling membutuhkan.

“Jangan sampai seorang anak kehilangan kesempatan untuk belajar hanya karena tidak memiliki buku untuk menulis. Kalau kita mampu membantu, mari kita bantu. Karena dari sebuah buku tulis, bisa lahir sebuah gagasan, cita-cita, dan masa depan,” pungkas Maria Teresa.

Reporter: Alfin Murtado
Sumber: banten.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top