Kisah Kate Wenqi Zhu, Influencer yang Lulus Terbaik di Oxford

Penulis: Alfin Murtado  •  Jumat, 18 September 2026 | 17:35:01 WIB

BANTEN — Kate Wenqi Zhu menyelesaikan gelar D.Phil. matematika di Universitas Oxford dan kini menjadi peneliti pascadoktoral di Mathematical Institute kampus tersebut. Matematikawan asal China berusia 32 tahun itu lulus sebagai peringkat pertama di angkatan magisternya, meski sempat dicap hanya mengandalkan penampilan. Perjalanannya dari Shenzhen hingga Oxford sekaligus menantang stereotip soal perempuan di bidang sains.

Oxford sendiri menempati peringkat kedua global untuk jurusan matematika dalam QS World University Rankings by Subject 2026, di bawah Massachusetts Institute of Technology. Posisi itu menegaskan bobot kredensial akademik Zhu, yang sempat diragukan sejumlah warganet di China.

Dari Shenzhen ke Oxford Lewat Homeschooling

Zhu lahir di Shenzhen dan menderita rinitis kronis sewaktu kecil sehingga sering absen sekolah. Di kelas, ia kerap melontarkan pertanyaan di luar kebiasaan, misalnya soal akar kuadrat dari +4 yang hasilnya ±2.

Kepala sekolahnya menyampaikan kekhawatiran atas perilaku itu. Ibunya menilai pendekatan sekolah tersebut tidak cocok, lalu menarik Zhu keluar pada usia 10 tahun dan mendidiknya di rumah selama dua tahun. Selama masa itu, sang ibu mendorongnya mengeksplorasi berbagai pertanyaan dan mencari jawabannya sendiri.

Pada usia 16 tahun, Zhu masuk Oxford untuk belajar matematika. Ia memilih bidang itu karena kesederhanaannya. "Matematika hanya membutuhkan selembar kertas dan pulpen. Saya bisa mengerjakannya di asrama, baik sambil berbaring maupun duduk," ujarnya.

Setelah merampungkan gelar sarjana dan magister di Oxford, Zhu sempat bekerja di J.P. Morgan dan Goldman Sachs. Penghasilannya saat itu sekitar USD 149.000 per tahun, tetapi ia mengaku tidak bahagia.

"Saya ingat suatu kali ketika tekanan di tempat kerja sangat tinggi. Saya pulang ke rumah dan menangis tersedu," kata Zhu. Di tengah tangisnya, solusi sebuah soal matematika tiba-tiba muncul di benaknya. "Saya mulai mengerjakannya dan lupa sedang menangis."

Ia lantas kembali belajar matematika sembari bekerja, sebelum akhirnya resign dan pulang ke Oxford. Pada 2020, Zhu mengambil program magister Mathematical Modelling and Scientific Computing dan lulus sebagai yang terbaik di angkatannya. Ia memulai program D.Phil. matematika pada 2022 dan menyelesaikannya pada 2026, serta meraih juara kedua Leslie Fox Prize for Numerical Analysis pada 2025.

Riset AI untuk Mengungkap Struktur Matematika

Penelitian Zhu saat ini menggabungkan optimisasi, analisis numerik, dan AI. Ia mengeksplorasi bagaimana kecerdasan buatan dapat membantu mengungkap struktur matematika yang selama ini sulit diidentifikasi dengan metode yang sudah ada.

Bidang itu termasuk salah satu yang paling aktif berkembang, seiring meluasnya pemanfaatan model komputasi untuk mempercepat penemuan pola dan konjektur baru. Zhu berada di barisan peneliti yang mencoba menjembatani matematika murni dan kecerdasan buatan.

Viral di Media Sosial dan Tuduhan Pemalsuan Kredensial

Zhu merupakan figur populer di media sosial China dengan total hampir 3 juta pengikut di Weibo, Douyin, dan Bilibili. Ia membagikan perjalanan akademisnya sekaligus kehidupan sehari-hari, termasuk penampilannya mengenakan gaun malam, di klub, dan di berbagai acara sosial.

Ia mengaku menyukai kekayaan, makanan enak, hiburan, dan kemewahan. Namun, menurut Zhu, tidak ada satu pun dari hal itu yang lebih penting dibanding matematika.

Pada Maret 2022, video yang ia unggah untuk merayakan kelulusan sebagai peringkat pertama magister di Oxford viral. Sejumlah warganet justru menuduhnya memalsukan kredensial akademik dan mengejeknya sebagai sosialita akademik. Asumsinya, penampilan cantik dan gaya hidupnya berarti ia tak mungkin cerdas.

"Apakah mengunggah foto selfie berarti Anda bodoh dalam belajar? Sudah saatnya kita mematahkan stereotip ini," respons Zhu sembari membagikan bukti pencapaian akademiknya. Alamat email dan alamat rumahnya bahkan sempat disebar.

Kepada Guangzhou Daily, Zhu mengatakan ia membagikan gaya hidupnya karena berharap bisa menginspirasi, meski sadar hal itu bisa memicu kritik.

Hambatan Perempuan di Matematika

Zhu juga vokal soal hambatan yang dihadapi perempuan di bidang matematika. Ketika Wang Hong menjadi perempuan China pertama yang memenangkan Fields Medal Juli lalu, Zhu menyebutnya momen bersejarah.

"Pintu bagi perempuan untuk memasuki tingkat tertinggi dalam penelitian matematika baru saja mulai terbuka," ujarnya, dikutip dari VNExpress.

Kisah Zhu menunjukkan bahwa kredensial akademik dan gaya hidup yang mencolok bukan dua hal yang saling bertolak belakang. Perdebatan yang ia alami di media sosial mencerminkan bias yang masih melekat pada perempuan di bidang sains dan matematika.

Reporter: Alfin Murtado
Sumber: inet.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top