TANGERANG — Aroma ayam bakar dari atas drum menyebar di sekitar Perempatan Lampu Merah Rajeg. Asapnya membawa wangi rempah yang perlahan masuk ke serat daging. Kedai bernama Ayam Bakar Kukun Beda Rasa itu berdiri di Jalan Raya Kukun dan dikelola Teh Enok.
Nama "beda rasa" bukan sekadar label. Proses masaknya berbeda dari ayam bakar kebanyakan. Daging tidak langsung bersentuhan dengan api besar.
Ayam dimatangkan perlahan dengan cara yang menyerupai pengasapan. Jarak antara bara dan ayam sengaja dibuat tidak terlalu dekat. Konsekuensinya, waktu pematangan jadi lebih panjang dari biasanya.
Efeknya terlihat pada permukaan daging yang cenderung kering. Bumbu rempah meresap sampai ke bagian dalam. Kadar air dan lemak berkurang selama proses pembakaran, menyisakan rasa gurih dengan aroma asap yang khas.
Teh Enok menyediakan ayam kampung dan ayam negeri. Keduanya jadi buruan pelanggan yang datang ke kedai ini.
Pada hari biasa, kedai ini bisa menjual 100 ekor ayam. Angka itu melonjak saat Minggu atau libur nasional.
"Kalau hari biasa paling seratus ekor, tapi kalau Minggu atau hari libur tanggal merah bisa sampai dua ratus lima puluh ekor," kata Teh Enok.
Ayam bakar belum lengkap tanpa sambal. Pelanggan di kedai ini bisa memilih beberapa varian sambal sesuai selera. Tinggal tentukan tingkat keberanian menghadapi pedas. Salah pilih sambal, keringat bisa mengucur alias gobyos.
Selain ayam, tersedia pula pepes ikan mas, pecak bandeng, hingga sop iga. Pilihan itu membuat kedai ini tak melulu soal ayam bakar.
Rahasia kelezatan di Ayam Bakar Kukun Beda Rasa bukan cuma soal bumbu. Ada kesabaran menjaga bara, mengatur jarak api, dan membiarkan asap bekerja perlahan.
Di atas drum sederhana, ayam kampung dan ayam negeri menemukan cara berbeda untuk memanjakan lidah. Warga Kabupaten Tangerang yang melintas di Jalan Raya Kukun bisa mampir dan menilai sendiri bedanya.