Thailand Kejar Target 34 Juta Turis Asing, Warga Mulai Gerah Perilaku Nakal

Penulis: Alfin Murtado  •  Senin, 28 September 2026 | 14:51:31 WIB
Otoritas Pariwisata Thailand memangkas target kunjungan wisatawan asing 2026 menjadi 30–34 juta orang.

BANTEN — Otoritas Pariwisata Thailand memangkas target kunjungan internasional 2026 menjadi 30-34 juta wisatawan, turun dari capaian 32,9 juta orang tahun lalu. Angka itu muncul di tengah gelombang keluhan warga soal perilaku sebagian turis asing yang dinilai melanggar aturan dan budaya setempat. Pariwisata sendiri menyumbang sekitar seperlima perekonomian nasional dan menopang jutaan pekerjaan.

Sejumlah video dan laporan soal tingkah turis asing memenuhi media sosial Thailand dalam beberapa bulan terakhir. Mulai dari keributan di ruang publik, pelanggaran aturan, bentrokan dengan warga, sampai dugaan bisnis ilegal yang memakai nama orang Thailand sebagai pemilik nominal. Pemerintah tetap butuh devisa dari sektor ini, tapi tekanan publik untuk menertibkan pengunjung makin kuat.

Target Kunjungan Dipangkas

Thailand pernah mencatat hampir 40 juta kunjungan wisatawan asing pada 2019. Rekor itu belum kembali setelah pandemi. Sepanjang tahun lalu, jumlah wisatawan asing yang masuk sekitar 32,9 juta orang.

Otoritas Pariwisata Thailand (TAT) kemudian menurunkan target kunjungan internasional 2026 menjadi 30-34 juta wisatawan. Tiga faktor yang disebut jadi penyebab: harga tiket pesawat yang mahal, ketidakpastian ekonomi global, dan persaingan dari Vietnam serta Malaysia.

Bagi pelaku industri, angka tersebut menegaskan Thailand belum bisa lepas dari wisatawan asing. Bagi sebagian warga, persoalannya bergeser — bukan lagi berapa banyak yang datang, melainkan bagaimana mereka berperilaku selama tinggal.

Keluhan Warga dan Akar Ketegangan

Pengamat politik dan sosial Thailand, Voranai Vanijaka, menilai kemarahan publik tidak hanya soal turis yang berlibur singkat. Banyak warga keberatan terhadap pendatang asing yang tinggal lebih lama, membuka usaha, atau memakai nama warga Thailand untuk mengendalikan bisnis yang secara hukum dibatasi bagi orang asing.

"Orang Thailand menyukai uang yang dibawa sektor pariwisata. Tetapi kami juga sangat nasionalis dan tidak suka melihat orang asing bertingkah seenaknya," kata Voranai, dikutip dari scmp.com.

Menurut dia, sentimen itu menguat karena kasus-kasus viral di media sosial terus bermunculan. Konflik paling sering terjadi di kawasan pulau wisata yang identik dengan pesta dan hiburan malam.

Upaya Menjembatani Warga dan Pendatang

Di Chiang Mai, seorang warga Hong Kong bernama John Ho mencoba meredakan ketegangan itu. Ho sudah sekitar satu dekade tinggal di kota tersebut bersama istrinya yang berasal dari Thailand.

Bulan ini, ia meluncurkan CosmoLocal CNX, program yang didukung pemerintah Thailand untuk mempertemukan komunitas digital nomad dengan warga lokal. Kegiatannya berupa lokakarya, diskusi, dan makan bersama.

"Ada masa transisi ketika seseorang datang sebagai turis. Saat itu mungkin mereka tidak terlalu peduli dengan budaya atau bahasa setempat," kata Ho.

"Tetapi ketika ingin tinggal lebih lama dan menjadikan tempat itu sebagai basis hidup, pertanyaannya berubah menjadi bagaimana caranya berteman? Akan lebih baik jika kita belajar sedikit bahasa Thailand dan memahami aturan mengenai bisnis maupun pekerjaan," ujarnya menambahkan.

Chiang Mai dipilih karena ritme hidupnya lebih santai, budaya Lanna yang kuat, dan suasana kota yang lebih tenang dibanding destinasi wisata di Thailand selatan. Karakter itu dianggap lebih kondusif untuk pertemuan lintas komunitas.

Konflik di Media Sosial Dinilai Dibesar-besarkan

Ho menilai sebagian besar digital nomad sebenarnya peduli dengan lingkungan sekitarnya. Mereka, kata dia, hanya butuh lebih banyak kesempatan bertemu warga lokal.

"Kami melihat adanya ketegangan itu. Tetapi sebagian besar digital nomad sebenarnya peduli. Mungkin mereka hanya membutuhkan lebih banyak kesempatan untuk bertemu warga lokal. Ini adalah upaya pertama untuk mewujudkan hal tersebut," kata Ho.

Ia juga menilai siklus pemberitaan di media sosial tidak selalu mencerminkan kondisi lapangan. "Siklus berita akan terus berputar. Saya rasa banyak hal yang dibesar-besarkan. Semua orang di Thailand menyambut orang asing," tegasnya.

Bagi wisatawan Indonesia yang berencana ke Thailand, aturan soal visa, masa tinggal, dan larangan bekerja tanpa izin perlu dicek ulang sebelum berangkat. Informasi terbaru bisa dikonfirmasi lewat kedutaan besar Thailand atau situs resmi TAT.

Reporter: Alfin Murtado
Sumber: travel.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top