BANTEN — Kasus bayi 28 hari di Surabaya yang meninggal setelah diberi telur mentah membuat IDAI bergerak cepat mengeluarkan imbauan resmi. Ada enam poin yang perlu ibu catat, mulai dari ASI eksklusif hingga kesiapan MPASI, supaya pemberian makan si kecil tetap aman.
Ikatan Dokter Anak Indonesia menegaskan bahwa pemberian makan pada bayi tidak bisa dilakukan sembarangan. Tiga hal wajib jadi patokan: kecukupan gizi, kesiapan perkembangan, dan keamanan pangan.
"Keselamatan dan kesehatan anak harus menjadi prioritas utama dalam setiap praktik pemberian makanan," kata Ketua Pengurus Pusat IDAI Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp Kardio(K).
IDAI tetap merekomendasikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi. Air susu ibu sudah dirancang memenuhi seluruh kebutuhan gizi bayi di fase ini.
Kalau ASI tidak bisa diberikan karena kondisi tertentu, susu formula boleh jadi alternatif. Tapi penggunaannya harus disesuaikan dengan kebutuhan dan indikasi medis, bukan dipilih sendiri tanpa konsultasi.
"ASI eksklusif selama 6 bulan tetap merupakan rekomendasi utama," tegas dr. Piprim.
Setelah enam bulan, kebutuhan nutrisi bayi mulai bertambah dan tidak lagi cukup hanya dari ASI. Di titik inilah MPASI masuk sebagai pendamping.
Dalam kondisi tertentu, MPASI bisa dipertimbangkan sejak usia empat bulan. Namun ini bukan rekomendasi rutin untuk semua bayi, melainkan harus lewat penilaian dokter dan melihat kesiapan perkembangan si kecil.
Telur mentah, daging setengah matang, atau makanan yang tidak diolah dengan higienis berisiko membawa bakteri seperti Salmonella. Sistem imun bayi yang belum matang membuat mereka jauh lebih rentan dibanding orang dewasa.
Pastikan semua makanan bayi dimasak hingga matang sempurna. Cuci tangan sebelum mengolah, pisahkan talenan untuk bahan mentah dan matang, serta simpan makanan di suhu yang tepat.
Bayi 6 bulan belum bisa mengunyah makanan padat. Mulailah dari tekstur halus seperti puree, lalu bertahap ke tekstur lebih kasar seiring bertambahnya usia dan kemampuan oromotor.
Memberi makanan yang teksturnya tidak sesuai usia bukan hanya soal sulit ditelan, tapi juga meningkatkan risiko tersedak yang bisa berakibat fatal.
Setiap bayi punya ritme makan sendiri. Memaksa anak menghabiskan porsi bisa membuatnya trauma dan menolak makan di kemudian hari.
Kenali tanda lapar dan kenyang si kecil. Kalau ia menutup mulut atau memalingkan wajah, itu sinyal sudah cukup. Konsultasikan ke dokter anak kalau berat badannya tidak naik sesuai kurva pertumbuhan.
Bayi dengan alergi, prematur, atau kondisi medis tertentu butuh panduan makan yang berbeda. Jangan mengandalkan informasi dari media sosial atau pengalaman orang lain yang belum tentu cocok.
Dokter anak akan menilai kesiapan perkembangan bayi secara menyeluruh sebelum menentukan kapan dan apa yang boleh diberikan.
Segera bawa bayi ke fasilitas kesehatan terdekat kalau muncul tanda seperti muntah terus-menerus, diare, demam tinggi, lemas, atau sulit bangun setelah makan. Reaksi alergi berat seperti bengkak di wajah, sesak napas, atau ruam yang menyebar juga butuh penanganan darurat.
Jangan tunggu gejala memburuk. Bayi bisa mengalami dehidrasi jauh lebih cepat dibanding orang dewasa.
Enam imbauan IDAI ini pada dasarnya berpijak pada satu prinsip: pemberian makan bayi harus didasari ilmu, bukan mitos atau kebiasaan turun-temurun. Mulai dari ASI eksklusif, MPASI di waktu yang tepat, hingga keamanan pangan, semuanya demi satu hal — si kecil tumbuh sehat tanpa risiko yang sebenarnya bisa dicegah.