BANTEN — Pemerintah menetapkan target defisit APBN 2027 sebesar 2,4 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), lebih sempit dari tahun-tahun sebelumnya. Keputusan ini diambil setelah dua lembaga pemeringkat mengubah outlook peringkat kredit Indonesia menjadi negatif dan rupiah bergerak mendekati Rp18.000 per dolar AS. Pemerintah juga memilih tidak memasukkan dividen Danantara ke dalam postur anggaran.
Keputusan itu menandai kembalinya disiplin fiskal yang lebih ketat. Menteri Keuangan Suahasil Nazara, yang menjabat sejak 14 September 2026, memprioritaskan kredibilitas anggaran di tengah tekanan eksternal yang meningkat. Dua lembaga pemeringkat telah memangkas outlook peringkat kredit Indonesia menjadi negatif, sementara nilai tukar rupiah terus melemah mendekati level Rp18.000 per dolar AS.
Langkah penyempitan defisit ini berbeda dari pola sebelumnya yang kerap mengandalkan penerimaan dari transfer satu kali, termasuk dividen Danantara. Pemerintah kini memilih bersandar pada disiplin fiskal dan efisiensi belanja untuk menjaga kepercayaan pasar.
Penghapusan asumsi penerimaan dari dividen Danantara dinilai sebagai sinyal positif bagi pasar. Chief Economist & Head of Research Rully Arya Wisnubroto menilai langkah Suahasil menandai kembalinya disiplin fiskal yang lebih kuat.
Dalam riset pada 13 Oktober 2026, Rully menyebut penyempitan target defisit dan penghapusan asumsi penerimaan dari transfer satu kali Danantara membuat postur anggaran lebih kredibel. Menurutnya, anggaran yang tidak bergantung pada penerimaan tidak rutin lebih mudah dipertanggungjawabkan dan mengurangi risiko