Maggot di TPS CitraRaya Tangerang Kunyah 320 Kilogram Sampah Organik Setiap Hari

Penulis: Zainul Arifin  •  Jumat, 16 Oktober 2026 | 12:16:31 WIB
Budidaya maggot di TPS CitraRaya, Tangerang, mengolah 320 kilogram sampah organik per hari.

TANGERANG — Dari 10 gram telur, budidaya maggot di TPS CitraRaya menghasilkan sekitar 1 kilogram baby maggot. Satu kilogram larva kecil itu kemudian berkembang menjadi 10 hingga 15 kilogram maggot siap kerja. Angka pertumbuhan tersebut menjadi dasar perhitungan kapasitas penguraian sampah organik di fasilitas tersebut.

Opay, pengelola budidaya maggot di TPS CitraRaya, menyebut proses dimulai dari telur yang menetas menjadi larva kecil. Dari situ, larva tumbuh dan mengonsumsi bahan organik yang tersedia di media budidaya.

"Dari 10 gram telur bisa menjadi 1 kilogram baby. Satu kilogram baby bisa menjadi 10 sampai 15 kilogram maggot," ujar Opay.

Bagaimana Siklus Hidup Lalat Tentara Hitam Bekerja

Maggot adalah larva dari lalat tentara hitam atau Black Soldier Fly (BSF), dengan nama ilmiah Hermetia illucens. Serangga ini berasal dari kawasan Amerika tropis dan menyebar ke berbagai wilayah tropis serta subtropis, termasuk Asia.

Lalat BSF mengalami metamorfosis sempurna: telur, larva, prepupa, pupa, lalu lalat dewasa. Dalam kondisi mendukung, seluruh siklus berlangsung sekitar 40 hingga 45 hari, meski durasinya bervariasi menurut lingkungan dan pemeliharaan.

Lalat betina mampu menghasilkan ratusan telur. Telur diletakkan pada celah atau permukaan dekat sumber bahan organik, bukan di tengah tumpukan sampah. Setelah menetas, larva memasuki fase paling produktif untuk pengolahan sampah.

Fase larva berlangsung sekitar dua hingga tiga pekan, bergantung pada kondisi lingkungan dan ketersediaan pakan. Pada tahap inilah maggot mengonsumsi sisa makanan, sayuran, buah, dan bahan organik lain yang sesuai.

Aktivitas tersebut merupakan bagian dari proses biokonversi, yakni pemanfaatan organisme untuk mengubah bahan organik menjadi biomassa larva dan residu.

Bukan Belatung Lalat Rumah

Larva BSF berbeda dari belatung lalat rumah yang sering ditemukan pada bahan membusuk. Keduanya berasal dari jenis lalat berbeda. Perbedaan ini membuat maggot BSF lebih aman ditangani dalam sistem budidaya terkontrol.

Meski demikian, budidaya maggot tetap membutuhkan kebersihan, pengendalian lingkungan, dan pemilahan bahan organik. Penggunaan larva tidak serta-merta membuat semua jenis sampah aman diolah.

Kondisi telur, pakan, suhu, kelembapan, dan pengelolaan media budidaya menentukan hasil aktual. Maggot bukan mesin yang mengubah semua sampah menjadi hilang dalam semalam.

Dari Riset Pertengahan 2000-an ke TPS Perkotaan

Pemanfaatan BSF sebagai pengolah bahan organik berkembang seiring meningkatnya perhatian terhadap sampah perkotaan dan kebutuhan sumber pakan alternatif. Di Indonesia, penelitian mengenai potensi maggot mulai dikenal luas sejak pertengahan dekade 2000-an, termasuk melalui kegiatan riset budidaya dan pemanfaatannya sebagai bahan pakan.

Pembudidaya ikan dan unggas melirik larva BSF karena kandungan proteinnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan. Kemampuan larva mengonsumsi bahan organik membuka peluang pemanfaatannya dalam sistem pengelolaan sampah.

Perjalanan itu mempertemukan dua kebutuhan: mengurangi beban sampah organik dan menghasilkan biomassa yang berpotensi dimanfaatkan kembali.

Sampah Tetap Perlu Dipilah Sejak Awal

Maggot bukan jawaban tunggal bagi persoalan persampahan. Sampah tetap perlu dipilah sejak awal, bahan yang tidak sesuai harus dipisahkan, dan residu pengolahan mesti ditangani dengan benar.

Di TPS CitraRaya, pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah tidak harus selalu dimulai dari teknologi mahal. Proses biologis yang melibatkan larva dalam jumlah besar dapat menjadi salah satu bagian dari rantai penanganan sampah organik di kawasan permukiman padat.

Reporter: Zainul Arifin
Sumber: bantensatu.co This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top