SERANG — Ketua Bidang Meteorologi dan Klimatologi Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah II Nely Ramah Kurniawati menyatakan indikasi sebaran asap teridentifikasi melalui analisis citra satelit Himawari-9. Analisis itu dikombinasikan dengan informasi meteorologi dan titik panas atau hotspot.
Pantauan satelit memperlihatkan sebaran asap muncul di sejumlah wilayah Indonesia, bukan hanya di sekitar sumber karhutla. Untuk Banten, arah pergerakan asap mengikuti pola angin yang bertiup dari timur-tenggara.
Keberadaan asap di lapisan atmosfer tidak otomatis berarti partikelnya sudah turun ke permukaan. BMKG belum dapat memastikan dampak sebaran asap terhadap kualitas udara yang dihirup masyarakat di permukaan.
Pembedaan ini penting bagi warga. Asap yang terpantau satelit bisa berada di ketinggian tertentu dan terbawa angin tanpa langsung memengaruhi kualitas udara di level pernapasan.
Meski dampak ke permukaan belum pasti, masyarakat Banten diminta tetap waspada terhadap pergerakan asap karhutla. Imbauan ini muncul setelah citra satelit menunjukkan jalur sebaran asap mengarah ke wilayah barat-barat laut, termasuk Banten.
Warga yang hendak beraktivitas di luar ruangan sebaiknya memantau perkembangan informasi cuaca dan kualitas udara dari BMKG. Jika asap mulai tercium atau jarak pandang menurun, penggunaan masker menjadi langkah antisipasi yang wajar.
Citra satelit Himawari-9 menjadi instrumen utama BMKG dalam mendeteksi pergerakan asap lintas wilayah. Kombinasi dengan data hotspot membantu memetakan sumber karhutla dan arah sebarannya.
BMKG belum merinci berapa lama potensi pergerakan asap ke Banten akan berlangsung. Pemantauan lanjutan bergantung pada perkembangan titik panas di Kalimantan dan pola angin yang berlaku.