BANTEN — Kabut asap karhutla membuat kualitas udara di sejumlah wilayah Indonesia memburuk, dan bayi serta balita jadi kelompok paling rentan terkena dampaknya. Berikut panduan lengkap melindungi anak dari paparan PM2,5, mulai dari cara memantau udara hingga tanda bahaya yang perlu Ibu waspadai.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat konsentrasi partikel halus PM2,5 di sejumlah titik pemantauan masuk kategori tidak sehat hingga berbahaya. Palangka Raya tercatat 870,3 µg/m³ dan Pangkalan Bun 388,8 µg/m³, keduanya dalam kategori berbahaya.
Angka itu muncul pada laman pemantauan kualitas udara BMKG yang diakses Kamis, 22 Oktober 2026, pukul 13.00 WIB. Data tersebut bukan gambaran kondisi sepanjang hari, jadi Ibu tetap perlu mengecek angka terbaru di laman resmi BMKG.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menjelaskan paru-paru dan sistem kognitif anak masih dalam tahap perkembangan. Artinya, paparan polutan pada masa ini perlu dicegah semaksimal mungkin.
Partikel PM2,5 berukuran tidak lebih dari 2,5 mikrometer, sangat kecil sehingga bisa masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Anak yang terpapar berisiko mengalami batuk, tenggorokan tidak nyaman, iritasi mata, hingga sesak napas.
Risiko juga lebih tinggi pada anak dengan asma atau gangguan pernapasan lain. Kondisi mereka bisa memburuk dengan cepat saat kualitas udara sedang tidak sehat.
Kemenkes mengingatkan bahwa risiko tidak ditentukan oleh seberapa pekat asap terlihat mata. Partikel polutan bisa tetap berada di udara meski langit tampak cerah.
Karena itu, orang tua sebaiknya memantau informasi kualitas udara resmi dan memperhatikan gejala yang dialami anak. Jangan menunggu asap terlihat tebal baru mengambil langkah pencegahan.
Selain Palangka Raya dan Pangkalan Bun, beberapa wilayah lain juga mencatat angka tinggi pada waktu yang sama. Musi 2 Palembang 248,9 µg/m³ dan Talang Betutu Palembang 236,9 µg/m³ masuk kategori sangat tidak sehat.
Muaro Jambi tercatat 128 µg/m³, Kota Jambi 87,2 µg/m³, Pekanbaru 69,5 µg/m³, Samarinda 62,8 µg/m³, dan Batam 59 µg/m³, semuanya kategori tidak sehat. Kemayoran, Jakarta, berada di angka 50,1 µg/m³ dengan kategori sedang.
Perlu diingat, satuan PM2,5 (µg/m³) berbeda dengan skala Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU). Keduanya sama-sama soal kualitas udara, tapi tidak bisa dipertukarkan begitu saja.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam imbauan 15 Oktober 2026 meminta kelompok rentan, termasuk bayi dan balita, membatasi aktivitas di luar rumah selama kabut asap berlangsung. Berikut langkah yang bisa Ibu terapkan:
Kemenkes mengingatkan agar segera mencari pertolongan medis bila muncul gangguan kesehatan. Bawa anak ke instalasi gawat darurat jika ia kesulitan bernapas, tampak kebiruan, atau kondisinya memburuk dengan cepat.
Kelompok rentan lain juga perlu perhatian ekstra, termasuk lansia, ibu hamil, dan orang dengan penyakit penyerta. Jika ada anggota keluarga masuk kategori ini, terapkan langkah pencegahan yang sama.
Dalam siaran pers 17 Oktober 2026, BMKG menyatakan sebaran asap karhutla mulai menjauhi wilayah Jawa bagian barat, termasuk Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Meski begitu, sisa sebaran asap masih terdeteksi di pesisir barat Banten pada ketinggian sekitar 10.000–18.000 kaki.
Kondisi udara bisa berubah cepat dari hari ke hari. Biasakan mengecek laman resmi BMKG sebelum mengajak anak keluar rumah, terutama jika Ibu tinggal di wilayah yang masuk kategori tidak sehat.
Melindungi anak dari kabut asap tidak harus rumit. Cukup pantau kualitas udara, batasi aktivitas luar ruangan saat angka tinggi, dan respons cepat bila gejala muncul. Si kecil butuh Ibu jadi garda terdepan saat udara sedang tidak bersahabat.