LEBAK — Program Santri Rakyat dirancang sebagai instrumen pemutus mata rantai kemiskinan struktural di Kabupaten Lebak. Amir menyebut pendekatan pendidikan dipilih karena dianggap paling efektif menjangkau anak-anak dari keluarga sangat miskin agar bisa melanjutkan sekolah ke pondok pesantren.
Alokasi Rp1 miliar pada tahun pertama menyasar 100 santri berprestasi yang dinilai tidak mampu secara ekonomi. Penerima beasiswa akan mengikuti pendidikan sesuai jenjang yang tersedia di masing-masing pondok, baik SMP/MTs maupun SMA/MA.
Pemkab Lebak merencanakan durasi pendidikan selama enam tahun hingga jenjang SMA. Namun pelaksanaannya menyesuaikan jenjang yang tersedia di masing-masing pondok pesantren.
“Beasiswa santri ini akan ada selama Hasbi-Amir. Kita menggandeng Forum Silaturahmi Pondok Pesantren (FSPP) Lebak,” kata Amir.
Penggandengan FSPP Lebak disebut sebagai upaya memastikan penyaluran beasiswa tepat sasaran. Forum tersebut akan terlibat dalam proses verifikasi penerima di lingkungan pondok pesantren.
Amir menegaskan program ini bukan bantuan jangka pendek. “Program Santri Rakyat ini merupakan program strategis daerah yang bertujuan mengentaskan kemiskinan melalui pendekatan pendidikan,” ujarnya.
Pemkab Lebak memposisikan beasiswa sebagai bagian dari komitmen kepemimpinan Hasbi-Amir. Artinya, keberlanjutan program bergantung pada masa jabatan pasangan tersebut.
Untuk tahun pertama, kuota 100 santri menjadi tahap awal sebelum evaluasi pelaksanaan. Belum ada keterangan resmi soal mekanisme pendaftaran dan jadwal seleksi penerima.
Warga menantikan kejelasan teknis penyaluran, mulai dari kriteria verifikasi hingga lembaga yang menangani pendaftaran. Sosialisasi ke pondok-pondok di pedesaan Lebak dinilai menentukan apakah kuota 100 santri terisi tepat sasaran.
Pemkab Lebak menyatakan beasiswa berlaku sepanjang kepemimpinan Hasbi-Amir. Kepastian anggaran tahun berikutnya akan bergantung pada pembahasan APBD mendatang.