TANGERANG — Bank Sampah Sungai Cisadane (Banksasuci) Foundation menjalankan sejumlah program konservasi di Daerah Aliran Sungai Cisadane bagian tengah atau Tangerang Raya. Selain aksi bersih-bersih rutin, komunitas ini memasang alat pencegat sampah, menanam pohon di bantaran, hingga berpatroli malam.
Pembersihan dilakukan setiap hari menggunakan speedboat. Sampah yang diangkat tidak dibuang ke TPA, melainkan dipilah, diolah, dan didaur ulang agar punya nilai ekonomis.
Dari sampah domestik yang ditemukan di Cisadane, sebagian besar berupa plastik. Rinciannya, 29,5 persen kantong plastik atau kresek dan 28,7 persen botol plastik.
Plastik kemasan menyumbang 16,8 persen, sedangkan sampah organik 5,5 persen. Sisanya berupa stereform, sandal, sepatu, kasur, bantal, dan jenis sampah lain.
"Sebagian besar sampah domestik yang ditemukan di Cisadane adalah sampah Plastik, 29,5 persen kantong plastik/kresek dan 28,7 persen botol plastik, 16,8 persen plastik kemasan, 5,5 persen sampah organik, sisanya stereform, sandal, sepatu, kasur, bantal dan jenis sampah lainya," terang Ade Yunus, Ketua Banksasuci Foundation.
Alat pencegat sampah atau wastetrap dipasang untuk menahan sampah agar tidak mengalir ke kawasan perkotaan hingga berakhir di muara. Sampah yang terjerat kemudian diangkut, dipilah, dan diolah Banksasuci tanpa dibuang ke TPA.
"Instalasi Wastetrap berfungsi untuk menjerat sampah di sungai Cisadane agar tidak mengalir ke kawasan perkotaan hingga berakhir di muara, Sampah yang terjerat kemudian diangkut, dipilah dan diolah untuk dikelola oleh Banksasuci, tidak ada yang dibuang ke TPA," jelas Ade.
Banksasuci menanam pohon di sepanjang bantaran sungai dan membuat lubang biopori untuk menjaga fungsi resapan air serta mencegah abrasi. Ada tiga program penghijauan yang dijalankan.
Cisadane Ranger Patrol berjalan setiap Rabu dan Sabtu pukul 20.00 WIB hingga 04.00 WIB. Rute patroli menyusuri sungai dari perbatasan Kota Tangsel, Kabupaten Tangerang, hingga Kota Tangerang.
Patroli malam menjadi upaya pengawasan untuk mencegah pembuangan limbah langsung ke sungai. Ade menyebut pihak tak bertanggung jawab kerap memanfaatkan kondisi malam dan hujan untuk membuang limbah.
"Biasanya pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab memanfaatkan kondisi malam hari dan saat hujan untuk membuang limbah ke Sungai Cisadane, Patroli ini kami lakukan untuk memastikan Sungai Cisadane sebagai sumber air baku masyarakat tetap terpantau dan terjaga," tandasnya.
Banksasuci menjadi jembatan kolaborasi lewat skema pentahelix antara masyarakat, Pemkot Tangerang, dan sektor swasta atau CSR. Kampanye yang diusung adalah gerakan zero waste dan literasi lingkungan.
Setiap pengunjung yang datang ke Banksasuci wajib naik speedboat dan menyerok sampah di Cisadane. Ade menyebut aturan itu bagian dari kampanye edukasi Komunikasi Perubahan Perilaku agar pengunjung terlibat langsung.
"Membersihkan sampah di Sungai memang berat, namun jauh lebih berat tantangannya adalah melakukan komunikasi perubahan perilaku terhadap masyarakat, harus konsisten dan berkelanjutan, sehingga sampah di Sungai bisa diminimalisir," pungkasnya.
Lewat rangkaian program itu, Ade berharap Cisadane bebas dari sampah dan limbah pada 2045 dapat terwujud. Residu sampah yang tidak bisa didaur ulang dimusnahkan di incinerator, sementara abunya dimanfaatkan sebagai pupuk dan paving.