Fumito Ueda bukan nama asing di telinga gamer Indonesia yang tumbuh besar dengan petualangan epik Shadow of the Colossus. Namun, selama seperempat abad, gamer PC hanya bisa menonton dari kejauhan. Kini, pintu itu mulai terbuka.
Dalam wawancara dengan media internasional, Ueda mengonfirmasi bahwa Gen Atlas—game misterius yang masih dirahasiakan detailnya—akan menjadi game pertama yang ia sutradarai dan langsung rilis di PC. "Saya hanya merasa senang dan antusias karena game ini bisa menjangkau lebih banyak pemain sejak hari pertama," ujar Ueda melalui seorang penerjemah.
Sebelum Gen Atlas, Ueda sempat bekerja sebagai animator di studio milik Kenji Eno, Warp, dan terlibat dalam game horor D serta Enemy Zero yang rilis di MS-DOS era 1990-an. Tapi begitu bergabung dengan Sony dan menciptakan Ico (2001), ia sepenuhnya terikat ekosistem PlayStation. Shadow of the Colossus (2005) dan The Last Guardian (2016) lahir di bawah bendera Sony.
Setelah The Last Guardian rampung, Ueda mendirikan studio independen Gen Design. Kemitraan dengan Epic Games untuk Gen Atlas memberinya kebebasan platform yang tak pernah ia miliki sebelumnya. "Saya menantikan ini sama besarnya dengan para pemain baru yang menantikan game besutan Fumito Ueda," katanya.
Pertanyaan yang tak bisa dihindari: apakah Ico, Shadow of the Colossus, dan The Last Guardian bakal menyusul ke PC? Ueda mengakui keputusan itu bukan sepenuhnya di tangannya. Tiga game tersebut sepenuhnya milik Sony—Ueda adalah karyawan saat mengerjakan dua game pertama, dan meski ia independen saat The Last Guardian, hak cipta tetap dipegang Sony.
"Jika ada kesempatan, saya pikir itu hanya kabar baik untuk game-game tersebut," jawab Ueda diplomatis. Ia menambahkan bahwa ia juga berharap hal itu terjadi suatu hari nanti. Namun, melihat strategi Sony belakangan ini yang mulai melunakkan sikap terhadap PC—dengan merilis Horizon Zero Dawn, God of War, dan Spider-Man—bukan mustahil tiga mahakarya Ueda suatu saat tiba di Steam atau Epic Games Store.
Hanya saja, belum ada tanda-tanda konkret. Sony masih sangat selektif memilih judul apa yang layak "dipinjamkan" ke platform lain. Bagi penggemar di Indonesia yang tak punya PlayStation, harapan masih menggantung tipis.
Hingga saat ini, Gen Atlas masih diselimuti kabut tebal. Ueda belum mengungkap genre, gameplay, atau jadwal rilis. Yang pasti, game ini akan menjadi ujian apakah gaya khas Ueda—teka-teki lingkungan, ikatan emosional tanpa dialog berlebihan, dan arsitektur surealis—bisa diterima di ekosistem PC yang lebih terbuka dan kompetitif.
Yang jelas, langkah ini menandai era baru. Seorang sutradara yang dulu dianggap "budak PlayStation" kini bebas bereksperimen. Dan untuk pertama kalinya, gamer PC bisa ikut merasakan apa yang selama ini hanya menjadi milik pemilik konsol Sony.