SERANG — Gubernur Banten Andra Soni menegaskan bahwa Program Bang Andra bukan sekadar proyek fisik, melainkan upaya memangkas disparitas ekonomi antara wilayah perkotaan dan perdesaan. Pada 2025, pemprov melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) telah menuntaskan pembangunan di 62 ruas jalan dan satu jembatan dengan total panjang mencapai 71 kilometer.
“Ketika jalan desa menjadi lebih baik, biaya transportasi masyarakat bisa ditekan, hasil pertanian lebih mudah dipasarkan, dan aktivitas ekonomi tumbuh lebih cepat,” ujar Andra Soni dalam keterangan resminya, Selasa.
Penanganan terbanyak dilakukan di Kabupaten Pandeglang yang mencakup 30 ruas jalan dan satu jembatan, disusul Kabupaten Lebak sebanyak 17 ruas. Sisanya tersebar di Kabupaten Serang (8 ruas), Kota Serang (5 ruas), dan Kabupaten Tangerang (2 ruas).
Andra Soni menjelaskan, pembangunan di wilayah selatan Banten menjadi fokus utama karena selama ini akses infrastruktur di sana masih terbatas. “Dengan mobilitas masyarakat yang semakin tinggi, apalagi di wilayah yang dekat dengan pusat keramaian, tentu pembangunan jalan desa menjadi tantangan tersendiri jika hanya mengandalkan dana desa,” katanya.
Pada tahun 2026, Pemprov Banten kembali mengalokasikan dana sebesar Rp 164 miliar untuk menangani 33 ruas jalan desa dengan total panjang 46,71 kilometer. Kabupaten Lebak kembali menjadi wilayah dengan penanganan terbanyak, yakni 11 ruas, diikuti Pandeglang 9 ruas, Kabupaten Serang 4 ruas, Kabupaten Tangerang 4 ruas, Kota Serang 4 ruas, dan Kota Cilegon 1 ruas.
“Di tahun 2026 ini, jangkauan pembangunan ruas jalan desa terus diperluas untuk memastikan pemerataan konektivitas di seluruh pelosok Banten,” papar Andra Soni.
Program Bang Andra dirancang sebagai program pembangunan berkelanjutan yang sejalan dengan Asta Cita ke-6 pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, yaitu membangun dari desa untuk pemerataan ekonomi. Selain meningkatkan konektivitas, program ini diharapkan mampu memperkuat sektor pertanian dan UMKM, serta meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan pendidikan dan kesehatan.
“Filosofi pembangunan adalah keberlanjutan. Kita kerjakan secara bertahap, terukur, dan tepat sasaran. Yang terpenting, masyarakat bisa merasakan manfaatnya secara langsung,” imbuh Andra Soni.
Gubernur juga mengajak seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah pusat hingga kabupaten/kota, untuk bersinergi dalam mempercepat pembangunan desa. “Jalan yang terbangun hari ini harus menjadi penghubung bagi tumbuhnya ekonomi, meningkatnya investasi, dan terbukanya kesempatan yang lebih besar bagi masyarakat desa,” pungkasnya.