BANTEN — PT BYD Motor Indonesia akhirnya angkat bicara soal penjualan yang jeblok pada bulan lalu. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), wholesales BYD hanya mencapai 895 unit pada Mei 2026. Angka itu menjadi yang terendah sejak Juni 2024, lebih parah dari titik terendah sebelumnya di September 2025 yang masih 1.088 unit.
Head of Marketing PR and Government Relations PT BYD Motor Indonesia Luther Panjaitan menjelaskan penurunan drastis ini merupakan dampak dari perombakan rantai pasok. Perusahaan tengah mengalihkan sumber produksi dari kendaraan impor menjadi hasil dalam negeri.
"Itu adalah dampak dari transisi production source kita, sebelumnya kita masih berbasis impor," kata Luther di Senayan, Jakarta akhir pekan kemarin. Ia menambahkan, proses ini menyebabkan shock di sisi angka distribusi ke dealer.
Anjloknya pengiriman BYD pada Mei 2026 sangat kontras dengan performa awal tahun. Sepanjang Januari hingga April, wholesales BYD konsisten di kisaran ribuan unit: 4.879 unit (Januari), 4.653 unit (Februari), 2.941 unit (Maret), dan 4.625 unit (April). Luther memastikan kondisi ini hanya sementara dan angka akan kembali normal pada Juni 2026.
Proses pembangunan pabrik BYD di Subang, Jawa Barat, masih berlangsung. Perusahaan berjanji akan memulai produksi lokal dalam waktu dekat. Transisi ini menjadi kunci bagi BYD untuk memperkuat basis produksi di Indonesia dan mengurangi ketergantungan pada impor.
"Kita membenahi sistem supply dengan transisi dari barang CBU ke produksi lokal. Sehingga ada sedikit shock di sisi angka, tapi itu akan normal kembali di bulan ini," ujar Luther.