BANTEN — Laode menegaskan bahwa skema kepemilikan tabung CNG 3 kg nantinya tidak akan memberatkan masyarakat. "Tabungnya itu nanti polanya bukan dibeli oleh masyarakat, tapi milik badan usaha. Jadi, masyarakat tinggal tukar-tukar aja," ujarnya di Kementerian ESDM, Jumat (26/6/2026).
Ia juga memastikan sistem ini berbeda dengan sewa tabung. Dengan kata lain, tidak ada biaya tambahan di luar pembelian gas yang digunakan. "Masyarakat juga tidak sewa. Jadi, masyarakat hanya beli isinya aja," tambah Laode.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa saat ini pemerintah bersama Pertamina tengah memasuki tahap ketiga uji coba penggunaan CNG untuk tabung gas bersubsidi 3 kg. "Nah CNG ini sekarang sudah masuk dalam tahap ketiga untuk gas tabung 3 kilonya sama-sama Pertamina," kata Bahlil dalam acara Energy Forum, Jumat (26/6/2026).
Penggunaan CNG sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Bahlil menjelaskan, tabung CNG berkapasitas 12 kg hingga 50 kg sudah dipakai di sektor komersial seperti hotel, restoran, katering, dan dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pemerintah menargetkan proses uji coba tahap ketiga rampung dalam waktu dekat, sehingga produksi massal tabung CNG 3 kg bisa dimulai pada Juli 2026.
"Sekarang kita lakukan uji tahap ketiga mudah-mudahan bulan Juli sudah bisa produksi. Nah kalau ini mampu kita lakukan, berarti kita bisa menahan impor LPG," ucap Bahlil.
Program substitusi LPG dengan CNG ini merupakan salah satu solusi untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor liquefied petroleum gas (LPG) yang selama ini terus membengkak. Dengan produksi massal tabung CNG 3 kg yang ditargetkan mulai berjalan pada pertengahan tahun depan, pemerintah optimistis beban impor energi bisa ditekan secara signifikan.
Jika program berjalan mulus, masyarakat tidak perlu khawatir dengan perubahan drastis. Mekanisme penukaran tabung yang sudah familiar dengan LPG 3 kg akan tetap diterapkan, hanya saja isinya berganti dari LPG impor menjadi CNG produksi dalam negeri.