BANTEN — Kepastian laga ini didapat setelah Inggris menaklukkan Republik Demokratik Kongo 2-1 di Atlanta, sehari setelah Meksiko melibas Ekuador dalam atmosfer gemuruh di Azteca. Kini, anak asuh Thomas Tuchel bersiap menghadapi lebih dari sekadar tim lawan — mereka akan berhadapan dengan 80.824 suara fanatik, efek altitudo yang membakar paru-paru, dan hantu masa lalu.
Bagi suporter Inggris, Azteca punya satu arti: gol tangan Maradona yang membawa Argentina menang di perempat final Piala Dunia 1986. Momen itu meninggalkan luka yang tak pernah sembuh. Namun, Tuchel justru melihatnya sebagai sumber energi positif.
"Karma akan kembali untuk kami. Kami akan membalikkan keadaan," ujar pelatih asal Jerman itu dengan mata berbinar. Tuchel, yang saat itu berusia 12 tahun dan menonton dari Jerman, mengaku masih ingat detail bayangan struktur laba-laba di tengah lapangan Azteca yang tak pernah bergeser.
Meksiko bukan lawan sembarangan di Azteca. Rekor mereka di stadion ini nyaris sempurna, sebagian besar berkat ketinggian yang membuat lawan pusing dan kehabisan napas. "Kami akan bermain melawan seluruh negara, melawan energi seluruh negeri, di stadion mereka," kata Tuchel.
Yang menarik, penduduk setempat justru ingin menghadapi Inggris, bukan Kongo yang lebih rendah peringkatnya. Mereka percaya diri bisa menjatuhkan "scalp besar" dan menganggap lini belakang Inggris rentan — penilaian yang cukup akurat berdasarkan performa turnamen sejauh ini.
Tuchel tak ragu menyebut timnya sebagai "avengers" yang datang untuk menebus masa lalu. Ia bahkan mengaitkannya dengan foto-foto hitam putih di hotel pemusatan latihan St. George's Park — gambar Gary Lineker mencetak gol, para pelatih, dan Peter Shilton. "Ini saat yang tepat untuk berdamai dengan stadion ini dan membalikkan keadaan," tegasnya.
Bagi Inggris, laga ini adalah bucket-list terbesar. Namun, bagi Meksiko, ini adalah panggung untuk membuktikan keperkasaan di rumah sendiri. Siapa yang akan menulis ulang sejarah Azteca?