BANTEN — Pabrikan asal Korea Selatan itu akhirnya mengadopsi teknologi baterai silikon-karbon yang selama ini dipakai sejumlah kompetitor asal China. Material anoda silikon menggantikan grafit konvensional, memungkinkan kepadatan energi lebih tinggi tanpa memperbesar dimensi baterai.
Keunggulan utama baterai silikon-karbon terletak pada efisiensi ruang. Samsung mengklaim peningkatan kapasitas 10-15 persen tanpa menambah ketebalan ponsel. Ini sangat berarti untuk ponsel lipat Galaxy Z Fold 7 yang selama ini terkendala bobot dan daya tahan.
Proses pengisian daya juga mengalami peningkatan. Galaxy S26 Ultra mendukung pengisian kabel 65 watt, naik dari 45 watt di generasi sebelumnya. Pengisian nirkabel tetap di 15 watt.
Samsung Galaxy S26 Ultra dibanderol mulai Rp 22.999.000 untuk varian 256 GB. Galaxy Z Fold 7 dilego Rp 28.999.000. Kedua ponsel sudah bisa dipesan di situs resmi Samsung Indonesia dan marketplace mitra sejak 20 Januari 2026.
Kenaikan harga berkisar Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta dibanding seri sebelumnya. Sebagai perbandingan, Galaxy S25 Ultra rilis di angka Rp 20.999.000 pada awal 2025.
Keputusan Samsung beralih ke silikon-karbon membuatnya setara dengan merek China seperti Xiaomi, Oppo, dan vivo yang sudah lebih dulu mengadopsi teknologi ini sejak 2024. Namun, Samsung menjadi pabrikan global pertama yang menerapkannya di lini flagship secara massal.
Dibanding Galaxy S25 Ultra, S26 Ultra menawarkan tambahan 500 mAh kapasitas baterai dan pengisian lebih cepat 20 watt. Sayangnya, harga naik cukup signifikan. Bagi pengguna yang tidak terlalu membutuhkan daya tahan ekstra, seri sebelumnya masih menjadi opsi lebih ekonomis.
Baterai silikon-karbon memang membawa peningkatan nyata dalam hal kapasitas dan desain. Tapi konsumen Indonesia harus merogoh kocek lebih dalam untuk mendapatkannya. Pilihan ada di tangan Anda: performa baterai maksimal di harga premium, atau flagship generasi sebelumnya dengan harga lebih bersahabat.