BANTEN — Berdasarkan laman Logam Mulia, Antam menjual perak dalam tiga varian. Untuk perak batangan 250 gram dibanderol Rp 10.187.500, sementara ukuran 500 gram seharga Rp 19.450.000. Antam juga menyediakan perak butiran dengan kemurnian 99,95%.
Penurunan harga perak Antam ini berbanding terbalik dengan pergerakan di pasar global. Mengutip tradingeconomics.com, harga perak dunia naik 0,94% menjadi US$ 57,63 per ons pada perdagangan Rabu. Lonjakan ini didorong oleh memanasnya kembali konflik di Timur Tengah, yang memicu kenaikan harga minyak dan meningkatkan ketegangan geopolitik.
Militer AS mengklaim berhasil mencegat serangan mendadak Iran yang menargetkan pasukan Amerika di berbagai wilayah Timur Tengah. Situasi ini membuat investor kembali fokus pada tekanan inflasi dan prospek suku bunga.
"Harga energi yang tinggi tetap menjadi kekhawatiran inflasi bagi anggota The Fed," ujar Direktur High Ridge Futures, David Meger. Menurutnya, kecenderungan kebijakan yang lebih ketat (hawkish) telah mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga dan nilai dolar AS, yang akhirnya menekan pasar logam mulia.
Pasar saat ini memperhitungkan peluang sekitar 69% The Fed akan mempertahankan suku bunga tidak berubah pada pertemuan Rabu ini. Namun, untuk pertemuan September, probabilitas kenaikan suku bunga mencapai 77%.
Kondisi ini membuat harga emas dan perak tertekan. Emas spot tercatat turun 1,1% menjadi US$ 4.032,42 per ons pada Selasa (28/7). Dolar AS yang stabil di dekat level tertinggi satu bulan membuat logam mulia yang dihargai dalam mata uang tersebut semakin mahal bagi pembeli di luar negeri.
Commerzbank baru-baru ini memangkas proyeksi harga emas akhir tahun sebesar US$ 300 menjadi US$ 4.500 per ons. Analis bank tersebut menilai, tanpa perubahan arah ekspektasi suku bunga, kembalinya investor ETF emas secara permanen dan pemulihan harga logam mulia sulit terjadi.
Di sisi geopolitik, Presiden AS Donald Trump mengklaim sedang melakukan pembicaraan baik dengan Iran dan ada peluang penyelesaian. Namun, ia juga mengancam akan melanjutkan serangan jika negosiasi gagal. Para pelaku pasar kini menanti data Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) AS untuk Juni yang akan dirilis Kamis ini, sebagai petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter.