LEBAK — Kementerian Pekerjaan Umum (PU) memastikan debit air Bendungan Karian di Kabupaten Lebak, Banten, masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan air baku masyarakat dan irigasi pertanian selama musim kemarau. Penurunan muka air sekitar 80 sentimeter dari elevasi normal disebut sebagai kondisi yang lazim terjadi dan tidak mengganggu fungsi bendungan. Temuan bangunan bekas permukiman yang kembali terlihat di area genangan juga dinilai wajar karena sisa konstruksi tidak seluruhnya dibongkar saat pembangunan.
Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan pengelolaan sumber daya air harus menjamin ketersediaan air bagi masyarakat sepanjang tahun, terutama saat kemarau. "Kementerian PU terus mengoptimalkan operasi bendungan dan infrastruktur sumber daya air agar kebutuhan air baku, irigasi, dan pengendalian banjir tetap terjaga," kata Dody di Jakarta, Kamis.
Saat ini, Bendungan Karian melepaskan debit air sebesar 24 meter kubik per detik sebagai suplesi irigasi. Air dialirkan dari intake bendungan menuju Bendung Gerak Pamarayan Baru untuk melayani Daerah Irigasi (DI) Ciujung. Dengan kondisi tersebut, kebutuhan air bagi lahan pertanian di wilayah layanan tetap terpenuhi.
Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau Ciujung Cidurian (BBWS C3) Dedi Yudha Lesmana menjelaskan bahwa dinamika tampungan air yang mengalami penurunan elevasi merupakan hal wajar pada musim kemarau. "Tampungan Bendungan Karian masih aman untuk memenuhi kebutuhan air baku maupun irigasi. Penurunan muka air sekitar 80 sentimeter dari elevasi normal merupakan kondisi yang lazim terjadi pada musim kemarau dan masih berada dalam batas aman operasi waduk," kata Dedi.
Ia menambahkan, fenomena ini tidak mengganggu fungsi bendungan sebagai penyedia air baku, layanan irigasi, maupun pengendali banjir. BBWS C3 memastikan akan terus memantau kondisi hidrologi dan mengoperasikan bendungan sesuai pola operasi waduk yang telah ditetapkan.
Munculnya kembali bangunan lama di area genangan Bendungan Karian sempat menjadi perhatian warga. Dedi menjelaskan bahwa bangunan tersebut merupakan bekas permukiman di Desa Sukarame dan Desa Sukajaya, Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak. Lokasinya berada di bagian hulu bendungan pada elevasi di atas +64,50 meter dan berjarak sekitar 16 kilometer dari as bendungan.
"Seluruh lahan pada area genangan Bendungan Karian telah dibebaskan sesuai ketentuan pada saat pembangunan bendungan. Namun, pekerjaan konstruksi hanya melakukan pembersihan vegetasi (clearing), sementara tidak seluruh bangunan eksisting dibongkar (demolition)," ujar Dedi. Kondisi tersebut menyebabkan sisa bangunan dapat kembali terlihat ketika muka air waduk surut secara alami pada musim kemarau.
BBWS C3 memastikan akan terus melakukan pemantauan kondisi hidrologi serta mengoperasikan Bendungan Karian sesuai pola operasi waduk yang telah ditetapkan. Hal ini dilakukan agar kondisi tampungan air tetap dapat memenuhi kebutuhan air masyarakat selama musim kemarau yang diperkirakan masih berlangsung hingga Agustus mendatang.
Kementerian PU menyebut pengelolaan Bendungan Karian yang tetap optimal selama musim kemarau ini merupakan implementasi nyata semangat PU608. Ketersediaan air baku bagi masyarakat serta layanan irigasi bagi lahan pertanian yang tetap terjaga menunjukkan bahwa infrastruktur Kementerian PU tidak hanya dibangun sebagai aset fisik, tetapi juga menjadi instrumen untuk menjaga ketahanan pangan, mendukung aktivitas ekonomi, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat di tengah tantangan perubahan iklim.