Erick Thohir Dukung FIFA Jual Hak Komersial Piala Dunia demi Biayai Transformasi Sepakbola Indonesia

Penulis: Yoga Permadi  •  Sabtu, 01 Agustus 2026 | 11:46:15 WIB
Erick Thohir menyatakan dukungannya terhadap rencana FIFA menjual hak komersial Piala Dunia untuk mendanai transformasi sepak bola Indonesia.

BANTEN — Wacana privatisasi sebagian hak komersial turnamen sepakbola terbesar di dunia memantik perdebatan panas di internal FIFA. Di tengah penolakan sejumlah konfederasi dan anggota, suara berbeda justru datang dari Indonesia. Erick Thohir menilai pembentukan badan usaha baru bernama FIFA Forward Enterprise bukanlah langkah yang asing, melainkan praktik yang sudah lazim di banyak asosiasi sepakbola nasional.

"Banyak asosiasi anggota FIFA telah menjalankan proses komersial serupa dalam liga domestik maupun kompetisi lainnya," ujar Erick Thohir, seperti dikutip media Inggris Sky News, pekan ini.

Insentif Rp722 Miliar untuk 211 Asosiasi

Proposal yang digodok markas FIFA di Zurich ini menawarkan insentif besar bagi 211 asosiasi anggota. Setiap negara, termasuk Indonesia, bakal menerima dana hingga USD40 juta atau setara Rp722 miliar apabila kesepakatan dituntaskan sebelum 19 September 2026.

Dana tersebut merupakan kombinasi dari program bantuan satu kali FIFA Fast Forward senilai USD20 juta dan tambahan dana pengembangan FIFA Forward untuk periode 2027 hingga 2030 senilai USD20 juta. Skema ini dirancang untuk melobi negara-negara berkembang agar menyetujui penjualan hak komersial Piala Dunia kepada investor eksternal.

Alasan Erick Thohir Buka Suara

Bagi Indonesia, dana tersebut bukan sekadar angka. Erick Thohir menegaskan bahwa program pembenahan sepakbola nasional yang berjalan tiga tahun terakhir membutuhkan suntikan modal besar agar tidak berhenti di tengah jalan.

"Sepakbola Indonesia telah bertransformasi dalam tiga tahun terakhir, telah dibersihkan. Peringkat tim nasional telah naik dari 174 ke 118. Untuk melanjutkan transformasi ini dibutuhkan pendanaan," jelas Erick Thohir.

Pernyataan ini menjadi penting karena Erick Thohir adalah satu-satunya petinggi asosiasi nasional dari Asia Tenggara yang secara eksplisit mendukung rencana kontroversial tersebut. Langkah ini juga dianggap sebagai sinyal kuat bahwa Indonesia membutuhkan dukungan finansial FIFA untuk membenahi infrastruktur dan pembinaan usia muda.

Kritik dan Risiko di Balik Skema Investasi

Di sisi lain, langkah Gianni Infantino menghadapi resistensi dari sejumlah anggota FIFA dan mayoritas konfederasi. Kekhawatiran utama mereka adalah penyerahan aset komersial paling bernilai di olahraga paling populer di dunia kepada sekelompok investor swasta. Hal ini dinilai berisiko menggeser kepentingan olahraga menjadi kepentingan bisnis semata.

Menanggapi kritik itu, Erick Thohir menilai mekanisme serupa sebenarnya sudah teruji di berbagai liga domestik. "Jika anggota FIFA menyetujuinya, itu akan menunjukkan bahwa memang ada kebutuhan agar kesepakatan ini terjadi," tuturnya.

FIFA Forward Enterprise sendiri dirancang sebagai anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki dan dikendalikan FIFA. Badan ini nantinya akan menyatukan seluruh aktivitas komersial dan penyelenggaraan berbagai kompetisi di bawah satu atap manajemen, termasuk potensi penjualan hak siar dan sponsor Piala Dunia edisi 2026 dan 2030.

Keputusan final tetap berada di tangan Kongres Luar Biasa FIFA yang dijadwalkan meratifikasi proposal ini. Jika lolos, Indonesia bersama 210 asosiasi lainnya akan langsung menerima alokasi dana yang dijanjikan, menjadikan momentum ini sebagai salah satu keputusan finansial terbesar dalam sejarah organisasi sepakbola dunia.

Reporter: Yoga Permadi
Sumber: akurat.co This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top