Perang Iran dan Investasi AI Bikin Inflasi AS Bandel, Pejabat The Fed Kembali Desak Suku Bunga Naik

Penulis: Alfin Murtado  •  Rabu, 05 Agustus 2026 | 11:03:31 WIB
Jeff Schmid, Presiden Federal Reserve Bank Kansas City, menyampaikan pidato di Omaha, Selasa (4/8) waktu setempat.

BANTEN — Perbedaan pandangan di tubuh Federal Reserve (The Fed) soal arah suku bunga semakin menajam. Jeff Schmid, Presiden Federal Reserve Bank Kansas City, secara terbuka menyuarakan perlunya pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut, sebuah sinyal yang bertolak belakang dengan keputusan bank sentral yang memilih mempertahankan suku bunga acuan pekan lalu.

Dalam pidatonya di Omaha, Selasa (4/8) waktu setempat, Schmid menilai fundamental ekonomi AS terlalu kuat untuk disebut sedang terhambat oleh kebijakan moneter saat ini. Permintaan domestik dan investasi yang solid membuatnya yakin suku bunga masih perlu dinaikkan.

"Dengan kuatnya permintaan dan investasi, saya tidak melihat sikap kebijakan moneter saat ini sebagai sesuatu yang restriktif. Karena itu, saya percaya bahwa untuk menurunkan inflasi ke target 2% The Fed diperlukan kebijakan yang lebih ketat," tegas Schmid.

Dua Sumber Tekanan Inflasi: Perang Iran dan Investasi AI

Pernyataan Schmid muncul di tengah kekhawatiran bahwa inflasi AS sulit turun ke target 2% dalam waktu dekat. Setidaknya ada dua faktor utama yang membuat laju harga kian bandel: dampak perang Iran terhadap rantai pasok energi global, dan lonjakan belanja modal perusahaan teknologi untuk membangun infrastruktur AI.

Schmid mengingatkan bahaya menganggap tekanan inflasi dari sisi pasokan sebagai fenomena sementara. Ia menilai lonjakan harga akan bertahan lebih lama jika terjadi bersamaan dengan permintaan domestik yang tetap kuat.

"Saya tidak nyaman jika harus menganggap lonjakan inflasi hanya bersifat sementara. Seberapa lama lonjakan inflasi akan bertahan sangat bergantung pada bagaimana The Fed bereaksi atau diperkirakan akan bereaksi," ujarnya.

Keputusan Tidak Bulat: Tiga Pejabat Pilih Naikkan Bunga 25 bps

Ketegangan internal ini sudah terlihat pada rapat kebijakan The Fed pekan lalu. Meski keputusan akhir mempertahankan suku bunga acuan, tiga pejabat bank sentral memilih menyatakan perbedaan pendapat (dissent). Mereka mendukung kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin, khawatir sikap menunda pengetatan justru memaksa The Fed mengambil langkah lebih agresif di kemudian hari.

Meski tahun ini tidak memiliki hak suara dalam penetapan suku bunga, sikap Schmid menambah daftar pejabat yang vokal mendukung kebijakan hawkish. Ini menjadi sinyal bahwa tekanan untuk menaikkan bunga kembali menguat di dalam dewan.

Di sisi lain, Presiden Federal Reserve Bank Philadelphia, Anna Paulson, mengambil sikap lebih moderat. Ia menyatakan tetap terbuka terhadap segala kemungkinan arah kebijakan suku bunga ke depan. Menurutnya, keputusan selanjutnya akan sangat bergantung pada data inflasi aktual dalam beberapa waktu mendatang, bukan pada asumsi atau proyeksi semata.

Sikap Paulson ini mencerminkan kubu yang ingin menunggu bukti lebih lanjut sebelum mengubah arah kebijakan, mengingat ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi.

Reporter: Alfin Murtado
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top