BANTEN — Kegagalan Timnas Indonesia di Piala AFF memang kerap berujung pada berakhirnya masa bakti pelatih. Pola ini terulang lagi pada edisi 2024, ketika skuad Garuda yang diperkuat mayoritas pemain muda gagal menembus semifinal. Shin Tae-yong, juru taktik asal Korea Selatan, dipecat pada 6 Januari 2025, hanya berselang beberapa hari setelah tim asuhannya tersingkir dari turnamen.
Keputusan PSSI memberhentikan Shin Tae-yong memicu reaksi keras dari publik. Pasalnya, di bawah arahan pelatih berusia 54 tahun itu, Timnas Indonesia justru tampil kompetitif di putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026. Prestasi itu kontras dengan hasil minor di Piala AFF 2024 yang dihuni oleh para pemain U-23.
Banyak pihak menilai federasi sengaja menjebak Shin. Instruksi untuk menurunkan skuad muda di turnamen regional itu dinilai tidak sejalan dengan target lolos semifinal. Alhasil, saat tim tersingkir lebih awal, ia menjadi kambing hitam dan kehilangan jabatan yang sebelumnya diemban sejak 2020.
Nama Alfred Riedl sudah tidak asing di sepak bola Indonesia. Pada 2010, pelatih asal Austria itu sukses membawa Timnas Indonesia menjadi runner-up Piala AFF. Namun, kisah sukses itu tidak terulang saat ia kembali menukangi tim pada 2014.
Di edisi tersebut, skuad Garuda justru kandas di fase grup. Hasil buruk itu membuat PSSI langsung mencopotnya. Kontras dengan pencapaian empat tahun sebelumnya, kegagalan di 2014 menjadi noda besar dalam karier mendiang Riedl bersama Timnas Indonesia.
Peter Withe datang dengan reputasi mentereng usai membawa Thailand juara Piala AFF dua kali beruntun pada 2000 dan 2002. PSSI pun tergoda dan menunjuknya sebagai pelatih Timnas Indonesia. Hasilnya sempat manis: ia mengantar Merah Putih ke final Piala AFF 2004.
Tapi tiga tahun berselang, tepatnya di Piala AFF 2007 yang sebagian digelar di Indonesia, performa tim justru anjlok. Timnas Indonesia gagal melaju dari fase grup. Alhasil, Withe dipecat meski saat itu jadwal Piala Asia 2007 sudah di depan mata.
Ketiga kasus itu menunjukkan tren yang sama: Piala AFF menjadi ajang pembuktian yang menentukan nasib pelatih. Kegagalan di turnamen ini hampir selalu berujung pada pemecatan, tanpa memandang seberapa besar kontribusi pelatih di ajang lain.