RANGKASBITUNG — Para penampung hasil bumi di Pasar Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, mencatat lonjakan harga kakao kering hingga Rp60 ribu per kilogram (kg) sejak sepekan terakhir. Kondisi ini berbanding terbalik dengan harga sebelumnya yang hanya berkisar Rp20 ribu per kg.
Budiman, seorang penampung hasil bumi di Pasar Rangkasbitung, mengatakan kenaikan ini terjadi seiring masuknya musim kemarau panjang. Sebagian besar daerah sentra produksi kakao, termasuk di Banten, belum memasuki masa panen sehingga pasokan ke pasar menipis.
Budiman menyebutkan, volume kakao kering yang dijual petani saat ini relatif kecil, berkisar antara 15 kg hingga 200 kg per orang. Sebagian besar merupakan stok hasil panen bulan Juni 2026 yang sebelumnya sempat ditahan petani.
"Kami sekarang bisa menampung kakao rata-rata 500-600 kilogram per hari," kata Budiman, Rabu.
Didi (57), seorang petani asal Warunggunung, Kabupaten Lebak, mengaku menjual kakao kering sebanyak 200 kg pada pekan ini. Dari transaksi tersebut, ia mengantongi pendapatan Rp12 juta dengan harga Rp60 ribu per kg.
"Sebetulnya kakao yang dijual itu stok panen Juni 2026 lalu, karena harga Rp20 ribu per kg. Kami menjual kakao itu setelah harga di penampung mengalami kenaikan," ujar Didi.
Hal serupa dirasakan Samsun (60), petani asal Banjarsari, Kabupaten Lebak. Ia menjual kakao kering sebanyak 100 kg dengan harga Rp60 ribu per kg dan memperoleh pendapatan Rp6 juta.
"Kami merasa senang harga coklat terjadi kenaikan, sehingga membantu pendapatan ekonomi keluarga," katanya.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Rahmat Yuniar, menyambut positif kenaikan harga kakao ini. Menurutnya, harga kakao kering bahkan sempat mencapai Rp120 ribu per kg pada periode sebelumnya.
Pemerintah daerah saat ini juga tengah mengembangkan komoditas perkebunan coklat hingga ribuan hektare di sejumlah kecamatan. Langkah ini diambil karena permintaan pasar terhadap kakao relatif tinggi dan dinilai mampu mewujudkan kesejahteraan keluarga petani.