Kampung Keridi di Kepulauan Meranti: Perjalanan ke Permukiman Suku Akit yang Hanya Bisa Dijangkau Kapal dan Jalan Rusak

Penulis: Wisnu Wardana  •  Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:10:01 WIB
Rombongan bakti sosial menuruni perahu kayu bermesin di Pelabuhan Sungai Suir menuju Kampung Keridi, Kepulauan Meranti.

BANTENKampung Keridi bukan destinasi yang mudah dijangkau. Terletak di Kecamatan Rangsang Pesisir, Kabupaten Kepulauan Meranti, permukiman ini menuntut pengunjungnya mengarungi Selat Panjang selama dua hingga tiga jam dengan kapal motor. Ombak yang meninggi sesekali mengguncang lambung kapal, tapi pemandangan hamparan laut lepas dengan semilir angin menjadi kompensasi selama perjalanan.

Rombongan bakti sosial (baksos) yang dipimpin Datuk Fakhrunnas MA Jabbar bersama 20 anggota lainnya berangkat dari Selatpanjang pada pagi hari. Mereka membawa paket bantuan yang jumlahnya cukup banyak—mulai dari sembako, peralatan sekolah, hingga pakaian layak pakai. Karena medan yang sulit, Ustadz Fauzi mengerahkan belasan santri untuk membantu mengangkat seluruh perbekalan ke atas kempang, perahu kayu bermesin yang menjadi moda transportasi utama warga setempat.

Menunggu Pasang Naik di Pelabuhan Kempang

Keberangkatan dari pelabuhan Kempang baru bisa dilakukan sekitar pukul 09.00 WIB. Bukan tanpa alasan—rombongan harus menunggu pasang naik agar kempang bisa berlayar dengan aman. Satu per satu penumpang dan barang bawaan diturunkan ke perahu secara bergiliran.

Setibanya di pelabuhan Sungai Suir, tantangan berikutnya muncul. Posisi kempang tidak sejajar dengan jambatan pelabuhan, memaksa setiap penumpang keluar dengan hati-hati sambil berpegangan. Seorang anggota tim bahkan nyaris terperosok ke laut karena menginjak lantai pelabuhan yang lapuk dan patah. Beruntung, Puan Arjunaida yang berada di sampingnya sigap membantu.

Jalan Rusak dan Gerobak Motor Menuju Balai Dusun

Perjalanan belum berakhir. Dari pelabuhan, rombongan masih harus berjalan kaki sekitar 1,5 kilometer menuju Balai Dusun Kampung Keridi. Jalan tanah yang sebagian sudah disemen tapi rusak di sana-sini menjadi pemandangan umum. Paket-paket bantuan diangkut menggunakan gerobak barang yang ditarik sepeda motor—kendaraan yang jumlahnya di kampung ini bisa dihitung dengan jari.

Hanya anggota rombongan yang tidak kuat berjalan karena faktor usia atau kondisi kesehatan yang diperbolehkan naik ojek motor. Sisanya, termasuk para santri, berjalan kaki sambil mengawal paket bantuan.

Ratusan Warga Suku Akit Menanti di Balai Dusun

Begitu tiba di Balai Dusun, rasa lelah seketika menguap. Ratusan warga Suku Akit sudah berkumpul di gedung berdinding setengah badan itu. Anak-anak berdiri malu-malu di samping orang tua, sebagian ibu menggendong balita, sementara para lelaki duduk di kursi atau berdiri memerhatikan kedatangan rombongan.

Mereka disambut senyum tulus dan tatapan penuh harapan. Di titik inilah makna paket sembako berubah—bukan sekadar beras, minyak goreng, atau gula, melainkan simbol bahwa masih ada pihak lain yang mengingat keberadaan mereka.

Ustadz Mujiburrahman, yang sebelumnya pernah berdakwah bersama Ustadz Fauzi di kampung ini, langsung bertindak sebagai pembawa acara. Ia mengajak anak-anak bermain gerakan dan tebak-tebakan dengan hadiah makanan atau mainan. Suasana hangat langsung tercipta di tengah keterbatasan fasilitas.

Bantuan yang Diserahkan dan Target Penerima

Acara diawali sambutan Ketua Panitia Baksos, Ustadz Ayub Nahar, yang menjelaskan tujuan kedatangan rombongan DMDI Riau yang berjumlah 21 orang. "Kami dari DMDI Riau membawa sedikit bantuan paket sembako, paket pendidikan dan pakaian layak pakai bagi masyarakat di Kampung Keridi. Semoga bantuan ini dapat bermanfaat bagi masyarakat di sini," ujar Ustadz Ayub.

Secara bertahap, bantuan diserahkan oleh Timbalan Ketum DMDI Datuk Fakhrunnas, Ustadz Ayub, serta anggota lain seperti Cikgu Amir, Amnizar, Syafrizal, dan R. Yandra. Dari rombongan perempuan, bantuan diserahkan oleh Jahlelawaty, Tutin, Yati Hartati, Arjunaida, Sulastri, Yayuk, Wiwiek, Sy Nurlela, Nuraini, dan Rosida.

Waktu Terbatas: Menghindari Terdampar di Pelabuhan

Acara harus berlangsung efisien. Rombongan tidak bisa berlama-lama karena harus kembali ke pelabuhan sebelum air surut. "Kalau kita tak cepat-cepat meninggalkan pelabuhan, bisa-bisa kita harus bermalam di Kampung Keridi ini," kata Ustadz Mujiburrahman.

Perjalanan pulang dilakukan dengan kempang menuju Selatpanjang, di mana Ustadz Fauzi sudah menunggu dengan 3-4 mobil kecil. Seluruh rombongan diangkut secara bertahap ke pesantren untuk menunaikan salat Zuhur, lalu menikmati hidangan siang yang sudah disiapkan pengurus pesantren.

Bagi traveler yang tertarik menjelajah sisi lain Kepulauan Meranti, Kampung Keridi menawarkan pengalaman berbeda—bukan soal pemandangan, melainkan ketangguhan warga yang hidup di tengah keterbatasan akses. Namun, pastikan perjalanan direncanakan dengan matang: cek jadwal pasang surut air laut dan siapkan fisik untuk jalan kaki yang cukup menantang. Informasi lebih lanjut dapat dikonfirmasi melalui Dinas Pariwisata Kepulauan Meranti atau komunitas DMDI Riau.

Reporter: Wisnu Wardana
Sumber: tirastimes.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top