TANGERANG — Jalan kampung di Kampung Jawaringan, Kelurahan Mekar Bakti, Kecamatan Panongan, Kabupaten Tangerang, menjadi saksi rutinitas anak-anak yang berjalan kaki menuju sekolah setiap pagi. Di sela deretan pohon jati yang menjulang, Insan Kamil School hadir dengan konsep pendidikan yang menyatu dengan alam.
Sekolah ini tidak hanya menggelar kegiatan belajar mengajar biasa. Para siswa kelas III sekolah dasar hingga jenjang sekolah menengah pertama diperkenalkan pada dunia wirausaha sejak dini.
Senin hingga Kamis, aktivitas belajar berlangsung seperti sekolah pada umumnya. Namun, Jumat menjadi hari yang berbeda bagi para siswa.
Anak-anak diajarkan membuat telur asin, mengolah kerajinan tangan, serta memahami proses sederhana bagaimana sebuah keterampilan memiliki nilai ekonomi. Pembelajaran ini menyasar siswa kelas III sekolah dasar hingga jenjang sekolah menengah pertama.
Kepala Insan Kamil School, Elis Hanafiah, menyampaikan bahwa kewirausahaan merupakan salah satu keterampilan penting yang perlu diperkenalkan sejak dini. Pihak sekolah meyakini pendidikan bukan sekadar mengukur banyaknya materi yang mampu dihafalkan siswa.
Anak-anak perlu dibekali keberanian untuk mencoba, keterampilan menghasilkan sesuatu, serta kemampuan mengenali peluang. Di sela kegiatan akademik dan kewirausahaan, pendidikan agama juga mendapat porsi tersendiri.
Berbagai kegiatan pada hari besar keagamaan berbasis Islam rutin digelar untuk memperkuat nilai-nilai keagamaan dan karakter anak.
Pendidikan karakter di Insan Kamil School tidak berhenti pada lingkungan sekolah. Ketika memasuki bulan Agustus, anak-anak diajak kembali memaknai arti kemerdekaan.
Perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia dimanfaatkan sebagai ruang menumbuhkan rasa nasionalisme, mencintai tanah air, serta menghargai jasa para pahlawan dan pendiri bangsa.
Di bawah teduh pepohonan jati, proses pendidikan berjalan sederhana. Anak-anak datang membawa buku, bermain, belajar, membuat telur asin, hingga menghasilkan kerajinan tangan.
Langkah kecil yang mereka tapaki setiap hari di jalan kampung itu kelak mungkin akan berubah seiring perkembangan zaman. Kebun jati bisa saja berganti menjadi bangunan atau permukiman, tetapi harapan yang mereka bawa dari sekolah ini semestinya tumbuh lebih jauh daripada pepohonan di sekitarnya.
Pendidikan pada akhirnya bukan sekadar tentang pergi ke sekolah. Ia adalah perjalanan panjang anak-anak untuk menemukan siapa dirinya, apa yang bisa dilakukannya, dan ke mana ia hendak melangkah.