Bangunan SDN Bangkuyung 2 Pandeglang Rusak Parah 10 Tahun, Siswa Tinggal 40 Anak dan Belajar Lesehan di Lantai

Penulis: Yoga Permadi  •  Kamis, 27 Agustus 2026 | 01:32:32 WIB
Enam ruang kelas dan perpustakaan SDN Bangkuyung 2 di Pandeglang rusak parah, memaksa siswa belajar lesehan di lantai.

Kerusakan parah yang menimpa bangunan SDN Bangkuyung 2 di Kabupaten Pandeglang, Banten, selama satu dekade terakhir membuat jumlah siswa menyusut drastis hingga tersisa 40 anak. Kondisi enam ruang kelas dan perpustakaan yang ambruk memaksa para guru menggabungkan rombongan belajar, bahkan siswa harus duduk lesehan di lantai saat hujan deras mengguyur atap yang bocor. Kepala Sekolah Rohayati mengungkapkan kekhawatiran orang tua murid terhadap keselamatan anaknya menjadi pemicu utama banyaknya siswa yang dipindahkan ke sekolah lain.

PANDEGLANG — Puluhan siswa SDN Bangkuyung 2 di Kabupaten Pandeglang, Banten, terpaksa menjalani kegiatan belajar mengajar (KBM) di tengah kepungan bangunan sekolah yang tak layak. Enam ruang kelas dan satu gedung perpustakaan yang ambruk sejak setahun lalu memaksa sekolah beroperasi dengan fasilitas darurat, sekaligus memicu menurunnya kepercayaan orang tua terhadap keamanan anak mereka.

Kepala SDN Bangkuyung 2, Rohayati, mengatakan jumlah peserta didik kini menyusut signifikan. Dari kondisi normal, sekolah hanya mampu mempertahankan 40 siswa lantaran banyak orang tua memilih memindahkan anaknya ke institusi lain.

"Orang tua merasa khawatir dan takut dengan kondisi bangunan yang seperti ini, sehingga banyak anak yang sudah sekolah di sini dipindah ke sekolah lain," ujar Rohayati di Pandeglang, Rabu.

Belajar Lesehan dan Evakuasi Saat Hujan

Keterbatasan ruang yang aman memaksa pihak sekolah menggabungkan sejumlah rombongan belajar. Siswa kelas 2 dan kelas 3 harus berbagi satu ruangan yang sama, sementara sebagian lainnya mengikuti pelajaran dengan posisi lesehan di lantai.

Situasi kian genting ketika hujan turun. Atap kelas yang bocor membuat guru harus sigap mengevakuasi para siswa ke dua ruangan yang dinilai masih cukup aman dari rembesan air.

"Sebagai guru dan kepala sekolah, kami selalu merasa waspada dan khawatir. Namun apa daya, karena anak-anak ingin tetap belajar, kami satukan dan fasilitasi seadanya," jelas Rohayati.

Semangat Belajar Tak Surut di Tengah Keterbatasan

Di balik kondisi fisik sekolah yang memprihatinkan, Rohayati menegaskan antusiasme para siswa untuk mengenyam pendidikan tidak pernah padam. Anak-anak disebutnya tidak pernah mengeluh dan tetap semangat mengikuti pelajaran setiap harinya.

Pihak sekolah berharap Pemerintah Daerah (Pemda) Pandeglang dan dinas terkait segera turun tangan melakukan perbaikan fisik bangunan. Harapan itu disuarakan agar proses belajar mengajar bisa berjalan nyaman tanpa dibayangi rasa was-was akan keselamatan.

"Kami sangat mengharapkan sekolah kami bisa diperbaiki menjadi baik kembali. Agar kami dan anak-anak bisa melaksanakan kegiatan belajar dengan nyaman dan tenang tanpa ada rasa waswas," pungkasnya.

Reporter: Yoga Permadi
Sumber: banten.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top