BANTEN — Di balik warung-warung kecil di Banyumas, Jawa Tengah, proses menggoreng tempe mendoan berlangsung singkat, cukup sampai adonan tepung matang, tetapi tidak sampai kering. Hasilnya, gorengan bertekstur lembut yang langsung terasa gurih di lidah.
Kuliner ini bukan sekadar gorengan biasa. Ia telah menjadi identitas kuliner masyarakat Banyumas dan penyebarannya kini mencapai berbagai wilayah Indonesia.
Perbedaan utamanya terletak pada teknik memasak. Kata "mendoan" berasal dari bahasa Banyumasan, "mendo", yang berarti memasak dengan minyak panas dalam waktu singkat hingga makanan tidak benar-benar kering.
Tempe diiris tipis dan lebar, lalu dicelupkan ke adonan tepung yang sudah dicampur bawang putih, ketumbar, garam, dan daun bawang. Setelah itu, digoreng dalam minyak panas selama beberapa saat.
Sementara tempe goreng biasa dimasak hingga kering dan renyah, mendoan justru disajikan setengah matang. Teksturnya lembut, sedikit basah, dan aroma bumbunya lebih terasa karena tidak tergoreng terlalu lama.
Bagi masyarakat Banyumas, mendoan bukan makanan ringan biasa. Ia menjadi bagian dari rutinitas harian dan identitas budaya setempat.
Gorengan ini kerap menemani minum teh atau kopi di pagi dan sore hari, menjadi hidangan keluarga, atau hadir sebagai pelengkap percakapan di teras rumah.
Meski industri kuliner terus berkembang, mendoan masih punya tempat di hati penggemarnya. Seorang pedagang tempe mendoan di Banyumas menyatakan, "Makanan tersebut masih memiliki banyak penggemar meskipun saat ini masyarakat memiliki banyak pilihan kuliner modern."
Menurutnya, cita rasa sederhana dan harga yang relatif terjangkau menjadi salah satu alasan tempe mendoan tetap diminati.
Mendoan paling nikmat disantap saat masih hangat. Di Banyumas, gorengan ini sering disajikan di sore hari sebagai teman ngobrol, ditemani teh hangat atau kopi.
Karena digoreng singkat, teksturnya yang lembut cepat berubah jika dibiarkan terlalu lama. Sebaiknya langsung habiskan setelah dibeli, atau tidak perlu khawatir—rasanya yang sederhana membuat orang terus menambah.
Tempe mendoan membuktikan bahwa hidangan sederhana bisa bertahan di tengah gempuran kuliner modern. Bagi yang berkunjung ke Banyumas, mencicipi mendoan langsung dari warung lokal adalah pengalaman yang wajib dicoba.