BANTEN — Founder & CEO Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi menghitung potensi keterlambatan tersebut berdasarkan rata-rata arus perdagangan bruto melalui Bandara Soekarno-Hatta yang mencapai US$84,03 juta atau sekitar Rp 1,4 triliun per hari. Angka ini diturunkan dari total nilai perdagangan tahunan yang tembus US$30,67 miliar atau Rp 539 triliun.
Erupsi gunungapi tidak hanya mengancam keselamatan penerbangan, tetapi juga kelancaran logistik nasional. Sebaran abu vulkanik dapat memicu penutupan ruang udara, pembatalan atau pengalihan penerbangan, perubahan jadwal, hingga penumpukan kargo di bandara.
Dalam skenario gangguan delapan jam, SCI memperkirakan arus ekspor dan impor yang tertunda mencapai US$28 juta atau Rp 492 miliar. Rinciannya, sekitar US$9,04 juta ekspor dan US$18,97 juta impor, dengan hampir 160 ton barang impor ikut tertunda.
Jika gangguan berlangsung 48 jam, nilai yang tertunda membengkak menjadi US$168 juta. Komposisinya sekitar US$54,23 juta ekspor dan US$113,83 juta impor, dengan potensi 960 ton barang impor tertunda.
Setijadi menegaskan angka tersebut bukan kerugian yang pasti terjadi. Perhitungan itu hanya menunjukkan nilai barang yang berpotensi tertunda dan belum mencakup pengiriman domestik. Besarnya dampak riil bergantung pada jumlah penerbangan yang dibatalkan, kemampuan pengalihan kargo ke bandara lain, jenis barang, serta kecepatan operasional penerbangan pulih.
SCI mencatat nilai ekspor nonmigas melalui Bandara Soekarno-Hatta pada 2025 mencapai US$9,90 miliar, sementara impor mencapai US$20,77 miliar atau Rp 365 triliun. Volume impor melalui bandara tersebut sekitar 174,9 ribu ton per tahun, atau rata-rata 479 ton per hari.
Data tersebut mengacu pada Badan Pusat Statistik (BPS) dan Satu Data Perdagangan Kementerian Perdagangan, dengan catatan data ekspor 2025 berstatus