BANTEN — Dari 38 provinsi di Indonesia, hampir semuanya pernah melaporkan kasus serupa. Jakarta termasuk wilayah yang mencatat kejadian anak sekolah keracunan setelah menyantap MBG.
Seorang anggota Komisi IX DPR RI menyebut kasus keracunan MBG sebagai persoalan sistemik setelah jumlah korban mencapai 50.059 anak hingga 2 September 2026. Artinya, ini bukan lagi soal satu dapur yang lalai.
Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) hanyalah unit pelaksana yang dibentuk dan dibiayai negara melalui Badan Gizi Nasional (BGN). Ketika kasus muncul di hampir semua provinsi, yang perlu dibenahi bukan hanya kebersihan satu dapur, melainkan sistem pengawasan program secara keseluruhan.
Program MBG mendapat perhatian khusus dari Presiden Prabowo. Pemerintah menyiapkan anggaran setidaknya Rp 1,2 triliun per hari untuk program ini, dengan Badan Gizi Nasional sebagai pelaksana.
Pertanyaannya kemudian: mengapa anggaran sebesar itu belum mampu mencegah puluhan ribu anak keracunan? Hingga kini, tidak ada satu pun kasus keracunan MBG yang diselesaikan secara hukum.
China, yang kemampuan ekonominya lebih baik dari Indonesia, tidak memberikan program makan gratis untuk semua anak. Pemerintah China meluncurkan Nutrition Improvement Program for Rural Compulsory Education Students (NIPRCES) pada 2011.
Sasarannya siswa sekolah dasar dan menengah pertama di daerah pedesaan dan tertinggal. Bantuan diberikan dalam bentuk makan siang gratis atau bersubsidi, susu, telur, atau paket makanan bergizi. Program ini lahir untuk mengatasi stunting dan anemia pada anak di pedesaan.
Jepang punya pendekatan berbeda lewat program Kyushoku. Makan siang di sekolah di sana dijadikan sarana belajar dan membangun karakter siswa, bukan sekadar pemenuhan gizi.
Kalau anak baru menyantap makanan dari program sekolah dan muncul gejala berikut, jangan tunggu memburuk. Segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat.
Catat waktu makan, jenis makanan yang dikonsumsi, dan simpan sisa makanan bila ada. Informasi ini membantu tenaga medis menentukan penanganan yang tepat.
Tanyakan ke pihak sekolah soal asal dapur dan jadwal distribusi makanan MBG di sekolah anak. Ibu berhak tahu siapa yang memasok makanan untuk anak setiap hari.
Kalau anak menunjukkan gejala setelah makan di sekolah, laporkan ke pihak sekolah dan dinas kesehatan setempat. Setiap laporan membantu pemerintah melihat pola masalah yang sebenarnya terjadi di lapangan.
Program MBG bisa dijalankan lebih aman bila sasarannya dipersempit, misalnya hanya untuk anak dari keluarga miskin dan daerah 3T (Terpinggirkan, Terluar, dan Tertinggal). Dengan begitu, pengawasan lebih ketat dan anggaran lebih terarah.
Hak hidup dan tumbuh kembang anak tidak bisa ditawar. Selama program ini masih membahayakan, ibu perlu terus bersuara dan memastikan setiap laporan ditindaklanjuti.