BANTEN — Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) mengawal ekspor perdana baterai kendaraan listrik dari kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Halmahera Tengah, Maluku Utara. Ekspor ini menandai tahap baru hilirisasi nikel Indonesia, dari sekadar penambang mineral menjadi produsen produk berteknologi tinggi. Kawasan IWIP sendiri menampung 11 proyek strategis dengan nilai investasi sekitar USD10,3 miliar atau setara Rp184 triliun.
Presiden Prabowo Subianto meresmikan ekspor perdana baterai kendaraan listrik sekaligus meletakkan batu pertama (groundbreaking) proyek strategis di kawasan IWIP. Dalam kunjungan kerja tersebut, Prabowo didampingi CEO Danantara Rosan Roeslani. Rosan menilai ekspor perdana ini menandai kemajuan hilirisasi hingga menghasilkan produk berteknologi tinggi di dalam negeri.
Prabowo menegaskan capaian ini menjadi bukti nyata strategi hilirisasi Indonesia yang akan terus berlanjut. Danantara menyoroti perjalanan industri ini tidak lepas dari masyarakat yang tumbuh bersama kawasan tersebut.
Kawasan IWIP memiliki 11 proyek strategis dengan nilai investasi mencapai sekitar USD10,3 miliar, atau setara Rp184 triliun. Kawasan industri ini dikembangkan melalui berbagai tahapan dalam satu ekosistem industri.
Rantai produksinya dimulai dari pengolahan mineral, pemurnian nikel, hingga pengembangan bahan baku baterai. IWIP dibangun sebagai ekosistem industri terintegrasi dari sumber daya alam menuju industri bernilai tambah.
Danantara menyatakan siap bersinergi dengan investor, pemerintah daerah, dan BUMN agar pengembangan kawasan memberi manfaat bagi masyarakat sekitar. Sinergi ini dinilai penting agar pertumbuhan industri tidak meninggalkan warga yang tinggal di sekitar kawasan.
Kehadiran kawasan industri terintegrasi ini menunjukkan langkah Indonesia bertransformasi, dari penghasil sumber daya mineral menjadi produsen produk industri berteknologi tinggi yang menembus pasar global.
Hilirisasi yang didorong pemerintah menjadi langkah penting dalam mengoptimalkan potensi sumber daya alam Indonesia. Tujuannya menciptakan produk industri bernilai tambah, bukan sekadar mengekspor bahan mentah.
Bagi Danantara, ekspor perdana baterai EV ini menjadi salah satu tonggak pengawasan investasi strategis di sektor hilirisasi. Ke depan, keberlanjutan proyek di Halmahera Tengah akan bergantung pada konsistensi pasokan bahan baku, kesiapan pasar global, dan penerimaan masyarakat sekitar kawasan industri.