BANTEN — Didin menilai peringatan Hari Santri semestinya menjadi momentum evaluasi bersama, bukan sekadar agenda rutin. Ia mengingatkan bahwa Banten menyimpan jejak panjang perjuangan ulama dan pesantren, termasuk kelahiran Syekh Nawawi al-Bantani dari Tanara, ulama yang karyanya dipelajari di berbagai penjuru dunia Islam.
Menurut Didin, penghormatan terhadap sejarah akan kehilangan makna jika tidak disertai tanggung jawab membangun masa depan. Para ulama dan santri terdahulu, katanya, berjuang dengan ilmu, akhlak, dan keberpihakan kepada umat, bukan demi popularitas atau kepentingan politik sesaat.
Didin membeberkan sejumlah persoalan yang menurutnya kerap luput dari perhatian saat peringatan Hari Santri digelar. Ia menyebut lima hal utama yang perlu dibenahi:
"Jangan sampai kita sibuk merayakan Hari Santri, tetapi melupakan persoalan mendasar pesantren: mutu pendidikan, kesejahteraan guru, akses teknologi, kemandirian ekonomi, dan masa depan lulusannya," tulis Didin dalam keterangan yang diterima redaksi.
Didin tidak mempersoalkan keterlibatan santri dalam kehidupan politik. Namun ia menekankan bahwa keterlibatan itu harus berlandaskan ilmu, akhlak, dan kepentingan masyarakat, bukan loyalitas kepada tokoh atau kelompok tertentu.
Yang perlu diwaspadai, menurutnya, adalah ketika simbol santri dipakai untuk kepentingan politik sementara persoalan pendidikan dan kesejahteraan mereka tidak sungguh-sungguh diperjuangkan. Pesantren didatangi saat dukungan dibutuhkan, santri dirangkul ketika ada kepentingan, tetapi kebutuhan mereka terlupakan setelah panggung politik selesai.
"Santri tidak boleh hanya menjadi peserta seremoni, pengerah massa, atau pelengkap legitimasi," ujarnya.
Ia menegaskan santri harus tumbuh menjadi generasi berilmu, mandiri, kritis, dan berani menyampaikan kebenaran. Menghormati pemimpin, kata Didin, tidak berarti kehilangan keberanian untuk mengingatkan ketika kekuasaan menyimpang.
Didin menilai menghidupkan ruh Syekh Nawawi al-Bantani bukan berarti membawa pesantren kembali ke masa lalu. Keteladanan ulama besar itu, menurutnya, terletak pada kedalaman ilmu, produktivitas keilmuan, keluasan wawasan, dan karya yang berpengaruh luas.
Semangat itu, lanjutnya, harus diwarisi untuk menjawab tantangan zaman. Santri perlu tetap kuat dalam ilmu agama, penguasaan kitab kuning, dan pembentukan akhlak. Pada saat yang sama, mereka dibekali sains, teknologi digital, bahasa asing, kemampuan riset, literasi keuangan, serta keterampilan kewirausahaan.
Didin mengingatkan dua risiko yang perlu dihindari. Santri jangan sampai unggul dalam ilmu agama tetapi tidak memiliki kecakapan menghadapi persoalan kehidupan. Sebaliknya, jangan pula mereka mahir menggunakan teknologi tetapi kehilangan adab dan integritas.
Peningkatan kualitas santri, menurut Didin, bukan hanya tanggung jawab pengasuh pesantren. Pemerintah, organisasi keagamaan, alumni, dunia usaha, dan masyarakat diminta mengambil bagian sesuai perannya.
Ia mendorong pemerintah memperkuat dukungan nyata bagi peningkatan mutu pendidikan, kompetensi guru, sarana belajar, akses teknologi, beasiswa, pelatihan keterampilan, dan kewirausahaan santri. Dukungan tersebut harus transparan, berkelanjutan, dan menjangkau pesantren yang membutuhkan.
Untuk Banten, Didin menawarkan langkah konkret yang bisa segera dimulai. Di antaranya pemetaan kebutuhan pesantren, peningkatan kompetensi guru, penguatan literasi digital, pendampingan usaha santri, serta kemitraan dengan perguruan tinggi dan dunia kerja.
Pengelola pesantren pun diminta terus berinovasi tanpa kehilangan jati diri. Alumni, kata dia, jangan hanya bangga mengenang almamater, tetapi ikut membuka akses pendidikan, pekerjaan, dan peluang usaha bagi generasi berikutnya.
Didin menegaskan keberhasilan Hari Santri tidak cukup diukur dari banyaknya peserta peringatan, megahnya acara, atau ramainya pemberitaan. Ukurannya harus lebih nyata: apakah kualitas belajar meningkat, apakah santri semakin mandiri, apakah lulusannya memiliki kesempatan hidup yang lebih baik, dan apakah pesantren semakin bermanfaat bagi masyarakat.
Setiap peringatan, menurutnya, perlu diikuti program yang jelas, target terukur, dan tindak lanjut yang dapat dipertanggungjawabkan. Jangan biarkan peringatan berakhir ketika panggung dibongkar dan spanduk diturunkan.
"Jangan sampai kita meriah merayakan Hari Santri, tetapi sepi memperjuangkan masa depan santri," pungkasnya.