BANTEN — Ekonom dan analis mata uang Ibrahim Assuaibi memproyeksikan harga emas dunia masih berpeluang menguat hingga menembus USD5.000 per troy ounce. Di pasar domestik, harga emas Logam Mulia diperkirakan mencapai Rp2,7 juta hingga Rp2,8 juta per gram pada akhir 2026.
Proyeksi itu disampaikan Ibrahim dalam agenda Talkshow Traze Andalan Future di Jakarta, Kamis (29/10/2026). Menurutnya, target tersebut bukan tanpa dasar. Sebelumnya ia bahkan sempat memasang target lebih tinggi di level USD5.500 per troy ounce.
Namun, pergerakan harga emas kemudian mengalami tekanan seiring perkembangan konflik geopolitik dan perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat (AS).
Ibrahim menilai kenaikan harga emas sebelumnya tidak terlepas dari meningkatnya ketegangan geopolitik. Mulai dari konflik Israel dan Hamas hingga ketegangan yang melibatkan Yaman dan Iran.
Situasi tersebut mendorong lonjakan harga emas dunia. Logam mulia memang lazim diburu investor sebagai aset lindung nilai (safe haven) ketika risiko global meningkat.
"Saya juga optimistis bahwa emas ini akan terus melonjak, bahkan akan di atas 5.000," ujar Ibrahim dalam agenda tersebut.
Selain faktor geopolitik, Ibrahim menyoroti dampak kenaikan harga minyak terhadap biaya transportasi dan logistik. Kenaikan biaya itu turut mendorong inflasi.
Kondisi tersebut kemudian memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed). Ekspektasi suku bunga menjadi salah satu variabel yang menentukan daya tarik emas, karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga.
Bagi pasar dalam negeri, proyeksi USD5.000 per troy ounce menjadi acuan penting. Harga emas Logam Mulia diproyeksikan menyentuh Rp2,7 juta hingga Rp2,8 juta per gram pada akhir 2026.
Angka itu jauh di atas level harga saat ini. Bagi investor ritel, proyeksi tersebut memberi gambaran potensi kenaikan nilai aset, sekaligus pengingat bahwa harga emas tetap rentan koreksi bila tensi geopolitik mereda atau ekspektasi suku bunga berbalik arah.
Pelaku bisnis emas, dari perhiasan hingga produsen logam mulia, perlu mencermati dua sisi risiko ini. Kenaikan harga menopang nilai persediaan, tetapi pelemahan daya beli masyarakat bisa menekan volume penjualan ritel.