LEBAK — Puluhan perempuan di Desa Pasir Kupa, Kecamatan Kalanganyar, Kabupaten Lebak, membuktikan bahwa bertani tidak harus menunggu lahan luas. Lewat Kelompok Wanita Tani (KWT) Berdikari yang berdiri sejak 2018, mereka mengolah pekarangan rumah dan kebun dengan komoditas sayuran bernilai ekonomi tinggi.
Ketua KWT Berdikari, Mama Marhamah, mengatakan saat ini kelompoknya memiliki 30 anggota. Mereka menanam kangkung, buncis, cabai, kacang panjang, ketimun, hingga jahe dan kunyit. "Pendapatan tanaman sayuran rata-rata Rp15 juta per musim panen," katanya di Lebak, Kamis.
Masa Panen Cepat, Omzet Langsung Mengalir
Salah satu keunggulan yang membuat para petani wanita ini bertahan adalah siklus panen yang relatif singkat. Sebagian besar sayuran seperti kangkung dan kacang panjang sudah bisa dipanen dalam 40 hingga 50 hari setelah tanam. Sementara itu, tanaman seperti jahe dan kunyit membutuhkan waktu sekitar delapan bulan sebelum bisa dipanen.
Hasil panen tidak hanya untuk konsumsi keluarga. Para anggota KWT menjualnya melalui dua jalur: secara digital lewat media sosial dan sistem online, serta dijual keliling ke warga sekitar. "Kami membantu pendapatan suami, sehingga bisa mewujudkan kesejahteraan keluarga," ujar Mama Marhamah.
Dukungan Pemkab dan Target Generasi Muda
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Rahmat Yuniar, mengapresiasi inisiatif para petani wanita ini. Menurutnya, kelompok tani tersebut mampu mengelola usaha pertanian sekaligus memenuhi ketersediaan pangan rumah tangga. "Kami minta generasi muda khususnya kaum milenial agar dapat menggeluti usaha pertanian, seperti kelompok wanita tani tersebut," kata Rahmat.
Salah satu anggota, Meti, mengaku tertarik mengembangkan pertanian setelah mendapat bantuan benih dari pemerintah daerah. Kini, hasil panen sayuran miliknya mampu menghasilkan pendapatan hingga Rp10 juta. "Kami bisa menyekolahkan anak pertama hingga perguruan tinggi swasta jurusan pertanian," jelasnya.
Dari Pekarangan ke Meja Makan hingga Kampus
Keberhasilan KWT Berdikari menjadi bukti bahwa sektor pertanian skala rumah tangga bisa menjadi solusi konkret untuk ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi. Dengan modal lahan terbatas dan dukungan benih dari pemerintah, para petani wanita di Lebak kini tak hanya menghidupi keluarga, tetapi juga mencetak generasi penerus yang sadar pertanian.