Pencarian

Dokter Eka Hospital Cilegon Ungkap Kaitan Overthinking dan GERD: Stres Picu Asam Lambung Kambuh

Selasa, 30 Juni 2026 • 20:03:31 WIB
Dokter Eka Hospital Cilegon Ungkap Kaitan Overthinking dan GERD: Stres Picu Asam Lambung Kambuh
Dokter Eka Hospital Cilegon jelaskan hubungan stres dan kambuhnya GERD.

CILEGON — Banyak pasien datang ke praktik dokter dengan keluhan GERD yang kambuh justru saat sedang dilanda masalah pekerjaan atau persoalan pribadi. Dokter Spesialis Penyakit Dalam Eka Hospital Cilegon, dr. Fachrial Imam, Sp.PD, menegaskan bahwa penanganan penyakit ini tidak bisa hanya berfokus pada lambung, tetapi juga harus menyentuh aspek psikologis.

Mengapa Overthinking Memicu Asam Lambung Naik?

Secara medis, overthinking tidak secara langsung menyebabkan GERD. Namun, dr. Fachrial menjelaskan bahwa stres dan kecemasan yang berkepanjangan memicu tubuh memproduksi hormon kortisol dan adrenalin. Peningkatan hormon ini memperlambat proses pencernaan, meningkatkan produksi asam lambung, dan membuat saluran cerna lebih sensitif terhadap rasa nyeri.

“Ketika seseorang mengalami stres atau kecemasan berlebih, tubuh akan menghasilkan hormon stres. Peningkatan hormon ini dapat memengaruhi produksi asam lambung dan meningkatkan sensitivitas saluran cerna terhadap rasa nyeri,” kata dr. Fachrial dalam artikel yang dimuat radarbanten.co.id.

Kondisi ini kerap membentuk siklus berulang: gejala GERD menimbulkan rasa tidak nyaman dan kekhawatiran, kekhawatiran itu memicu stres, dan stres pada akhirnya memperparah gejala GERD itu sendiri.

Tanda-Tanda yang Perlu Diwaspadai

Penderita GERD umumnya merasakan sensasi terbakar di dada atau ulu hati, rasa asam atau pahit yang naik ke tenggorokan, sering bersendawa, dan perut terasa penuh atau kembung. Gejala lain meliputi mual setelah makan, batuk kronis terutama pada malam hari, suara serak, serta gangguan tidur akibat dada dan tenggorokan tidak nyaman.

Dr. Fachrial juga mengingatkan bahwa kebiasaan overthinking sering mengubah pola hidup. Makan tidak teratur, kurang tidur, konsumsi kopi berlebihan, dan pilihan makanan kurang sehat menjadi pemicu kambuhnya GERD.

Makanan Ramah untuk Penderita Asam Lambung

Selain obat-obatan sesuai anjuran dokter, pengaturan pola makan menjadi langkah kunci. Beberapa pilihan makanan yang lebih nyaman dikonsumsi penderita GERD antara lain karbohidrat kompleks seperti oatmeal, nasi merah, roti gandum, kentang rebus, dan ubi kukus. Protein rendah lemak seperti dada ayam tanpa kulit, ikan laut, tahu, tempe, dan putih telur juga dianjurkan.

Sayuran non-asam seperti brokoli, wortel, buncis, bayam, labu, dan timun baik untuk pencernaan. Buah yang tidak terlalu asam seperti pisang, melon, pepaya, semangka, dan pir bisa menjadi pilihan aman.

Sebaliknya, makanan pedas, tinggi lemak, gorengan, makanan cepat saji, cokelat, kopi, minuman bersoda, dan buah sangat asam seperti jeruk dan lemon sebaiknya dibatasi. “Pemicu setiap individu bisa berbeda. Penting untuk mengenali makanan apa saja yang memicu gejala pada diri masing-masing,” ujar dr. Fachrial.

Aktivitas untuk Mengelola Stres dan Menjaga Lambung

Karena kesehatan mental dan pencernaan saling berkaitan, pengelolaan stres menjadi bagian penting. Beberapa aktivitas yang bisa dicoba meliputi berjalan santai, latihan pernapasan, olahraga intensitas ringan hingga sedang, menulis jurnal, menjaga kualitas tidur, dan membatasi paparan media sosial berlebihan.

Dr. Fachrial menyarankan untuk segera berkonsultasi ke dokter jika gejala GERD terjadi lebih dari dua kali dalam seminggu, disertai kesulitan menelan, penurunan berat badan tanpa sebab jelas, muntah berulang, atau nyeri dada yang berat. “GERD bukan hanya masalah lambung semata. Kondisi psikologis seperti stres dan overthinking juga berperan memperburuk gejalanya,” pungkasnya.

Bagikan
Sumber: radarbanten.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks