BANTEN — Pelemahan ini melanjutkan tekanan yang sudah berlangsung sepekan terakhir, di mana rupiah terus bergerak di zona merah seiring dengan penguatan indeks dolar global. Pergerakan rupiah pada Jumat (16/8) pagi ini menjadi salah satu yang terdepresiasi dalam beberapa bulan terakhir.
Tekanan terhadap rupiah tidak lepas dari sentimen eksternal yang masih dominan. Indeks dolar AS (DXY) masih bertahan di level tinggi, didorong oleh ekspektasi bahwa suku bunga acuan Federal Reserve akan tetap ketat lebih lama dari perkiraan sebelumnya.
Data ekonomi AS yang solid, seperti klaim pengangguran yang lebih rendah dari estimasi, kembali mengonfirmasi ketahanan ekonomi Negeri Paman Sam. Hal ini membuat investor global cenderung memarkir dananya di aset berbasis dolar, meninggalkan mata uang negara berkembang seperti rupiah.
Bagi importir, pelemahan rupiah ini jelas menjadi kabar buruk. Biaya pengadaan bahan baku impor otomatis membengkak, menekan margin keuntungan perusahaan. Sektor manufaktur dan ritel yang bergantung pada barang impor diprediksi akan merasakan dampak paling langsung.
Di sisi lain, bagi eksportir, posisi ini justru menguntungkan. Nilai penerimaan dalam dolar AS menjadi lebih tinggi saat dikonversi ke rupiah. Namun, keuntungan ini bisa tergerus jika tekanan nilai tukar berlangsung tidak stabil dan sulit diprediksi.
Level Rp18.000 per dolar AS kini menjadi garis psikologis yang diwaspadai pelaku pasar. Jika tekanan berlanjut, Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan kembali melakukan intervensi ganda di pasar spot dan obligasi untuk menahan laju depresiasi.
Gubernur BI Perry Warjiyo sebelumnya telah menegaskan komitmen bank sentral untuk menstabilkan nilai tukar melalui triple intervention. Strategi ini mencakup intervensi di pasar valas, pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder, serta operasi moneter untuk menjaga likuiditas.
Pelaku pasar kini menanti langkah konkret BI dalam beberapa jam ke depan. Jika rupiah terus tertekan mendekati Rp18.000, intervensi besar-besaran bisa segera dilakukan untuk meredam kepanikan.