Pertamina Patra Niaga JBB Perkuat Ketahanan Pangan Lewat Rumah Gizi Rawajaya di Pondok Kopi, 20 Warga Jadi Petani Urban

Penulis: Vikri Alfandi  •  Jumat, 26 Juni 2026 | 15:56:31 WIB
warga Pondok Kopi mengelola lahan urban farming di RPTRA Rawajaya melalui Program Rumah Gizi Rawajaya.

JAKARTA — Di tengah hiruk-pikuk ibu kota, lahan sempit di RPTRA Rawajaya, Kelurahan Pondok Kopi, berubah menjadi sumber pangan dan penghidupan. Sejak awal tahun ini, 20 warga binaan Pertamina Patra Niaga JBB melalui Aviation Fuel Terminal (AFT) Halim Perdanakusuma mulai menanam pakcoy, caisim, cabai rawit, hingga melon, sambil membudidayakan ikan lele dan nila. Program Rumah Gizi Rawajaya ini bukan sekadar proyek percontohan, melainkan upaya nyata menekan angka kelaparan dan menciptakan lapangan kerja di tingkat akar rumput.

Kolaborasi Tiga Pilar: Pertamina, Kelurahan, dan Warga

Komitmen tersebut diperkuat dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) periode 2026–2029 antara AFT Manager Halim Perdanakusuma Irine Yuliana, Lurah Pondok Kopi Sandy Adamsyah, dan Ketua Kelompok Rumah Gizi Rawajaya Akhmad Sokari. Kesepakatan ini memastikan program pemberdayaan masyarakat berbasis urban farming berjalan berkelanjutan, tidak hanya setahun atau dua tahun.

Lurah Pondok Kopi, Sandy Adamsyah, menyambut baik langkah ini. Menurutnya, sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam pembangunan wilayah.

"Kami mengapresiasi komitmen Pertamina yang telah menjalin kerja sama dengan Kelurahan Pondok Kopi melalui Program Rumah Gizi Rawajaya. Kami berharap kolaborasi ini dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, sekaligus memperkuat sinergi antara pemerintah, dunia usaha dan masyarakat dalam mendukung pembangunan serta meningkatkan kesejahteraan warga," ujar Sandy dalam keterangan resminya.

Dari Lahan Sempit ke Meja Makan

Yang menarik, program ini membuktikan bahwa lahan perkotaan yang terbatas tidak menjadi halangan untuk produktif. Di RPTRA Rawajaya, warga diajari teknik budidaya sayuran hidroponik dan konvensional, serta pemeliharaan ikan dalam kolam terpal. Hasil panen sebagian dikonsumsi sendiri untuk memenuhi gizi keluarga, sebagian lagi dijual untuk menambah pendapatan.

Irine Yuliana, AFT Manager Halim Perdanakusuma, menegaskan bahwa program ini sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 2 (Tanpa Kelaparan) dan poin 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi).

"Melalui Program Rumah Gizi Rawajaya, kami ingin menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi warga. Bersama Kelurahan Pondok Kopi dan Kelompok Rumah Gizi Rawajaya, kami berharap program ini dapat memberikan dampak yang berkelanjutan serta mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat," ujar Irine.

Dukungan Penuh dari Regional JBB

Pjs. Area Manager Communication, Relations & CSR Regional JBB, Dila Amanda Kenniza, menambahkan bahwa kolaborasi ini menjadi contoh bagaimana perusahaan BUMN bisa bersinergi dengan pemerintah lokal. Ia optimistis program serupa bisa direplikasi di wilayah lain.

"Kami mengapresiasi kolaborasi yang terjalin dalam pelaksanaan Program Rumah Gizi Rawajaya. Dengan sinergi antara pemerintah, Pertamina, dan masyarakat, kami optimistis program ini dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan, memperkuat ketahanan pangan, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat Kelurahan Pondok Kopi," ujar Dila.

Ke depan, selain pertanian dan perikanan, program ini berpeluang dikembangkan ke sektor pengolahan hasil panen dan pemasaran digital. Dengan begitu, warga tidak hanya menjadi petani, tetapi juga pengusaha mikro yang mandiri. Pertamina memastikan pendampingan teknis dan akses pasar akan terus diperkuat selama masa kerja sama berlangsung.

Reporter: Vikri Alfandi
Sumber: banten.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top