JAKARTA — Pergerakan rupiah pada pembukaan perdagangan Senin berada di level Rp17.783 per dolar AS, terkoreksi 25 poin atau 0,14 persen dari posisi penutupan sebelumnya Rp17.758. Tekanan datang dari eksternal, bukan dari faktor domestik.
Analis Doo Financial Lukman Leong menyebut lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS sebagai pemicu utama. Pasar merespons sinyal hawkish The Fed yang kembali menaikkan suku bunga acuan.
Federal Open Market Committee memutuskan menaikkan federal funds rate ke kisaran 3,75 persen hingga 4,0 persen pada Rabu (16/9). Ini kenaikan suku bunga acuan pertama The Fed sejak Juli 2023.
Dampaknya langsung terasa di pasar obligasi. Imbal hasil tenor 10 tahun bertahan di level 5 persen, sementara tenor 2 tahun melambung ke 4,756 persen — rekor tertinggi sejak 2024.
Ringkasan proyeksi ekonomi FOMC menunjukkan mayoritas pejabat The Fed memperkirakan suku bunga acuan masih berpotensi menanjak ke kisaran 4,0 persen hingga 4,25 persen pada akhir 2026. Dua agenda pertemuan FOMC tersisa tahun ini, yakni akhir Oktober dan awal Desember 2026.
Bank Indonesia dijadwalkan menggelar Rapat Dewan Gubernur bulanan pada 22–23 September 2026. Konsensus pasar memperkirakan BI memilih menahan suku bunga acuan untuk merespons dinamika global tersebut.
Lukman menyatakan rupiah masih berpotensi melemah terhadap dolar AS di tengah naiknya imbal hasil obligasi AS.
"Rupiah diperkirakan masih berpotensi melemah terhadap dolar AS di tengah naiknya imbal hasil obligasi AS oleh prospek kenaikan suku bunga The Fed yang memberikan tekanan pada BI (Bank Indonesia) menjelang RDG (Rapat Dewan Gubernur) BI Rabu (23/9) ini," ucapnya di Jakarta, Senin.
Mempertimbangkan kuatnya tekanan eksternal dari kebijakan moneter AS dan penyesuaian pasar domestik, pergerakan nilai tukar rupiah untuk perdagangan hari ini diproyeksikan bergerak pada rentang Rp17.700 hingga Rp17.850 per dolar AS.
Bagi pelaku usaha di Banten yang bergantung pada bahan baku impor, pelemahan rupiah menambah tekanan biaya produksi. Importir di kawasan industri Cikande dan Merak biasanya menyesuaikan kontrak pembelian saat kurs menyentuh level seperti sekarang.
Pasar menanti hasil RDG BI untuk melihat apakah bank sentral mempertahankan suku bunga acuan atau mengambil langkah lain guna menstabilkan nilai tukar.