BANTEN — Penurunan harga logam mulia di outlet Pegadaian didominasi oleh koreksi tajam emas produksi PT Untung Bersama Sejahtera (UBS). Sementara itu, emas bersertifikat PT Aneka Tambang Tbk (Antam) dan produk anak usaha Pegadaian, Galeri24, juga kompak melemah. Pergerakan harga ini berbanding terbalik dengan kondisi pasar spot global yang perlahan bangkit dari level terendahnya.
Emas UBS mencatatkan penurunan terdalam sebesar Rp 48.000, membuat harganya merosot ke angka Rp 2.797.000 per gram dari hari sebelumnya yang berada di level Rp 2.845.000. Penurunan signifikan ini diikuti oleh emas Antam yang kini dibanderol Rp 2.862.000 per gram, atau lebih murah Rp 25.000 dari harga sebelumnya Rp 2.887.000.
Anak usaha Pegadaian, Galeri24, juga memangkas harga produknya sebesar Rp 26.000 menjadi Rp 2.756.000 per gram. Manajemen Pegadaian menyediakan berbagai denominasi ukuran untuk memudahkan investor ritel, mulai dari pecahan terkecil 0,5 gram hingga ukuran terbesar 1 kilogram khusus untuk produk Galeri24.
Kontras dengan pasar domestik, harga emas di pasar spot global justru menguat 1 persen ke level USD 4.532,72 per ounce (setara Rp 72,52 juta dengan asumsi kurs Rp 16.000 per dolar AS) pada perdagangan Rabu (20/5/2026). Kenaikan ini didorong oleh meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah, khususnya harapan penyelesaian konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
"Kita telah melihat jeda dari peningkatan imbal hasil yang berkelanjutan. Akibatnya, kita telah melihat harga emas menguat dari titik terendah baru-baru ini," ujar David Meger, Direktur Perdagangan High Ridge Futures, dalam keterangannya.
Meredanya kekhawatiran konflik di Selat Hormuz turut menekan harga minyak mentah Brent. Penurunan harga energi ini memberikan angin segar bagi pasar keuangan karena berpotensi menurunkan tekanan inflasi global dan melonggarkan kebijakan moneter ketat.
Fakta Singkat:
Penurunan yield obligasi AS menjadi katalis positif bagi emas yang merupakan aset tanpa imbal hasil (non-yielding asset). Ketika imbal hasil obligasi turun, biaya peluang (opportunity cost) memegang emas menjadi lebih rendah, sehingga meningkatkan daya tarik logam mulia di mata investor institusional.
"Segala jenis penyelesaian perang dan pembukaan Selat Hormuz akan menjadi hal positif bagi pasar emas karena ekspektasinya adalah suku bunga akan turun, dan karenanya akan menjadi peluang dan bermanfaat bagi emas," tambah Meger.
Bagi pelaku pasar di Indonesia, fluktuasi harga emas di Pegadaian ini menjadi momentum penting untuk mengatur ulang portofolio investasi. Sejarah membuktikan bahwa emas tetap menjadi pilihan utama lindung nilai (hedging) yang paling tangguh di tengah ketidakpastian ekonomi global.