BANTEN — Kerja sama ini bukan sekadar nota kesepahaman biasa. Pertamina dan SLB menyepakati penjajakan yang mencakup tiga pilar utama: teknologi eksplorasi dan produksi migas, transformasi digital operasional, serta pengembangan solusi rendah karbon seperti carbon capture and storage (CCS).
Di sektor hulu, kedua perusahaan akan mengkaji adopsi teknologi pengeboran cerdas dan optimasi reservoir. Tujuannya, meningkatkan faktor perolehan minyak dari sumur-sumur eksisting. Di sisi digital, Pertamina ingin mengintegrasikan sistem analitik data dan otomatisasi proses di lapangan.
“Kami melihat potensi besar untuk mengakselerasi kemampuan operasional melalui teknologi SLB yang sudah teruji di berbagai cekungan migas dunia,” ujar Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati, dalam pernyataan resmi, Selasa (5/3).
Bagian yang tak kalah krusial adalah kerja sama di bidang CCS. Pertamina tengah mengembangkan sejumlah proyek penyimpanan karbon di beberapa blok migas yang sudah berproduksi. SLB akan membantu pemodelan geologi dan injeksi karbon agar proyek ini layak secara teknis dan ekonomis.
Langkah ini selaras dengan target pemerintah mencapai net zero emission pada 2060. Bagi Pertamina, CCS menjadi salah satu pilar utama dalam strategi dekarbonisasi portofolio bisnisnya.
Jika terealisasi, kolaborasi ini berpotensi memperpanjang umur produksi sumur-sumur tua Pertamina. Artinya, pasokan minyak dan gas untuk kebutuhan dalam negeri bisa lebih terjamin tanpa harus bergantung penuh pada temuan cadangan baru.
Bagi SLB, Indonesia tetap menjadi pasar strategis. Perusahaan asal AS ini sudah puluhan tahun berkecimpung di layanan ladang migas tanah air. Kemitraan dengan Pertamina memperkuat posisinya di tengah persaingan ketat dengan Halliburton dan Baker Hughes.
Kedua pihak belum membeberkan nilai investasi atau target waktu realisasi kerja sama. Namun, sumber internal Pertamina menyebutkan, kajian teknis dan komersial ditargetkan rampung dalam enam bulan ke depan.