BANTEN — Langkah efisiensi ini terungkap setelah Kepala Badan Pengelola (BP) BUMN sekaligus COO Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menggelar pertemuan dengan jajaran direksi Pertamina. Dalam pertemuan tersebut, dibahas secara spesifik kemajuan program streamlining di lingkungan Pertamina Group.
"Pertemuan ini menjadi bagian dari upaya memastikan transformasi Pertamina berjalan terukur, tepat waktu, dan selaras dengan agenda penguatan ketahanan energi nasional," demikian pernyataan resmi yang diunggah akun Instagram @bumn_id, Jumat (12/6/2026).
Pemangkasan 124 entitas anak usaha itu mencakup berbagai skema. Sejumlah perusahaan akan dilikuidasi alias dibubarkan, sebagian lainnya akan dilepas melalui divestasi, dan sisanya digabung atau dipisah (spin-off) untuk menciptakan struktur yang lebih ramping dan fokus.
Langkah ini bukan tanpa alasan. Sebagai perusahaan pelat merah dengan lini bisnis yang sangat luas—dari hulu migas, kilang, petrokimia, hingga ritel—Pertamina kerap dihadapkan pada tumpang tindih fungsi antar anak usaha. Dengan memangkas jumlah entitas, perusahaan berharap biaya operasional bisa ditekan dan pengambilan keputusan menjadi lebih cepat.
Program streamlining ini juga sejalan dengan arahan pemerintah untuk mendorong BUMN agar lebih lincah dan kompetitif di tengah transisi energi global. Pertamina dituntut untuk tidak hanya efisien secara finansial, tetapi juga responsif terhadap kebutuhan pasar energi dalam negeri.
Meski detail nama anak usaha yang terdampak belum diumumkan secara resmi, langkah ini dipastikan akan mengubah peta bisnis Pertamina secara signifikan. Entitas yang dinilai tidak lagi strategis atau memiliki kinerja kurang optimal menjadi prioritas untuk dilikuidasi atau dilepas.
Sebaliknya, anak usaha yang bergerak di sektor inti seperti eksplorasi dan produksi minyak, pengolahan kilang, serta distribusi BBM kemungkinan besar akan tetap dipertahankan dan bahkan diperkuat. Skema merger juga diproyeksikan terjadi pada perusahaan-perusahaan dengan segmen bisnis serupa agar tidak saling kanibal.
Transformasi ini diharapkan rampung dalam beberapa waktu ke depan, menjadikan Pertamina sebagai holding BUMN energi yang lebih gesit dan siap bersaing di era transisi energi. Dengan struktur yang lebih ramping, perusahaan juga diyakini mampu meningkatkan kontribusinya terhadap pendapatan negara melalui setoran dividen yang lebih optimal.