TANGERANG — Kantor Kelurahan Sukabakti di Kecamatan Curug berubah wajah, Minggu (12/7). Ruangan yang sehari-hari dipenuhi antrean administrasi kependudukan dan tumpukan berkas itu, hari itu dipenuhi tawa dua ratus anak yatim.
Mereka datang bukan untuk mengurus stempel atau tanda tangan, melainkan menjadi tamu dalam Festival Berbagi Bahagia yang digagas Komunitas Jari Memberi. Acara ini menjadi pengingat bahwa bulan Muharam tidak melulu soal kalender baru, tetapi juga tentang berbagi.
Wakil Bupati Tangerang Intan Nurul Hikmah hadir menyapa para peserta. Di hadapan anak-anak dan relawan, ia menyampaikan bahwa rezeki yang dimiliki seseorang adalah titipan yang di dalamnya ada hak orang lain.
“Sebagian rezeki yang kita miliki adalah titipan Allah SWT yang di dalamnya ada hak orang lain,” ujarnya dalam sambutan.
Menurut Intan, kegiatan sosial semacam ini tidak boleh berhenti hanya karena bulan Muharam berakhir. Ia mendorong agar kepedulian terhadap anak yatim terus berlanjut sepanjang tahun, bukan sekadar tradisi musiman yang dijalankan karena terbawa kalender.
Di tengah acara, Intan juga mengingatkan bahwa bingkisan dan uang santunan yang dibagikan sifatnya sementara. Habis dalam hitungan hari atau pekan. Karena itu, ia mengajak masyarakat memanfaatkan program pendidikan yang telah disiapkan pemerintah daerah.
Pemkab Tangerang, kata dia, memiliki Beasiswa Tangerang Gemilang serta menyediakan sekolah swasta gratis untuk jenjang SD dan SMP. Program ini, menurut Intan, adalah bentuk santunan yang umurnya paling panjang karena bisa mengubah jalan hidup seseorang selama puluhan tahun.
“Jangan pernah menyerah, jangan rendah diri. Terus belajar dan raih cita-cita setinggi mungkin,” pesan Intan kepada anak-anak yatim yang hadir.
Komunitas Jari Memberi memilih pendekatan yang berbeda. Di tengah banyak komunitas lain yang berlomba mengejar sorotan media atau ramai di media sosial, mereka memilih pekerjaan yang lebih sunyi: memastikan anak-anak yatim tetap merasakan bahwa ada banyak orang yang peduli terhadap masa depan mereka.
Festival ini akhirnya menyisakan satu pelajaran kecil. Berbagi ternyata tidak selalu membuat penerimanya lebih bahagia. Sering kali justru pemberinya lah yang pulang dengan hati lebih ringan. Sebab kebahagiaan, rupanya, memang memiliki sifat unik: semakin dibagikan, semakin sulit ia habis.