25 Kecamatan di Kabupaten Tangerang Masuk Zona Rawan Kebakaran dan Kekeringan Saat Musim Kemarau

Penulis: Vikri Alfandi  •  Selasa, 14 Juli 2026 | 11:55:31 WIB
Petugas BPBD Kabupaten Tangerang bersiap mendistribusikan bantuan air bersih di Kecamatan Curug yang mengalami krisis air bersih.

TANGERANG — Kepala BPBD Kabupaten Tangerang Achmad Taufik mengungkapkan bahwa potensi kebakaran tidak hanya terjadi di lahan ilalang, tetapi juga gedung dan lapak limbah yang dikoordinir oleh pengusaha. "Sekitar 25 kecamatan potensi kebakaran, baik lahan ilalang, gedung, maupun lapak limbah-limbah yang dikoordinir oleh pengusaha limbah," kata dia di Tangerang, Selasa.

Kawasan Industri dan Pergudangan Jadi Titik Rawan

Berdasarkan pemetaan BPBD, kecamatan dengan kategori lokasi sangat rentan terbakar antara lain Kosambi, Teluknaga, Curug, Tigaraksa, dan Cikupa. Wilayah-wilayah itu dikenal sebagai pusat industri dan pergudangan. "Terutama wilayah-wilayah industri dan pergudangan, serta wilayah yang banyak limbah, di antaranya di Kosambi, Teluknaga, Cikupa, Curug, Tigaraksa. Itu wilayah-wilayah industri rawan kebakaran," tutur Achmad Taufik.

Kekeringan Mulai Terjadi, Satu Kecamatan Krisis Air Bersih

Selain kebakaran, musim kemarau ekstrem yang diprediksi sebagai El Nino Godzilla juga memicu kekeringan untuk kebutuhan warga dan pertanian. Hingga saat ini, baru satu kecamatan yang resmi melaporkan krisis air bersih. "Yang kelihatan saat ini kekurangan air bersih itu baru di Kecamatan Curug dan kita sudah bantu distribusi air bersih di wilayah itu. Kita selalu stay petugas-petugas kita dengan armadanya," ujar Achmad Taufik.

Sinergi Lintas Instansi untuk Penanganan Kekeringan

BPBD Kabupaten Tangerang memastikan akan berkoordinasi dengan PDAM dan Dinas Perumahan, Permukiman, dan Pemakaman (Perkim) untuk mengoptimalkan penyaluran bantuan air bersih. "Apabila ada kekeringan, kita bantu suplai air bersih. Kemudian koordinasi dengan PDAM dan Perkim. Jadi bukan BPBD sendiri, ada PDAM dan Perkim untuk suplai air apabila tidak bisa ditangani sendiri oleh BPBD," kata dia.

BMKG: Puncak Kemarau Mulai Juli hingga September 2026

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya memprediksi puncak musim kemarau di Indonesia terjadi pada Juli hingga September 2026. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam keterangan resminya menyebut bahwa kondisi ini harus mulai diantisipasi seluruh lapisan masyarakat. Pada Juli, puncak kemarau mencakup 83 Zona Musim (ZOM) atau 12,26 persen luas daratan Indonesia, meliputi sebagian Sumatera, sebagian kecil Kalimantan dan Jawa, serta Nusa Tenggara Timur bagian selatan.

Puncak kemarau terluas terjadi pada Agustus, mencakup 369 ZOM (48,84 persen luas daratan), termasuk sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan sebagian besar Kalimantan. Sementara pada September, puncak kemarau meliputi 169 ZOM (25,41 persen luas daratan) di wilayah seperti Kepulauan Bangka Belitung, sebagian besar Sumatera Selatan, dan Lampung.

Reporter: Vikri Alfandi
Sumber: banten.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top