BANTEN — Kredit BCA pada akhir Juni 2026 mencapai Rp1.036 triliun, tumbuh 8% secara tahunan (year-on-year/YoY). Secara year-to-date (YtD), pertumbuhan kredit tercatat 4,3% pada semester I, sementara secara kuartalan, kuartal II tumbuh 4,2% dibanding kuartal sebelumnya.
Direktur Keuangan BCA, Vera Eve Lim, menegaskan kenaikan BI Rate tidak mengubah fokus bisnis perseroan. BCA lebih mengutamakan momentum pertumbuhan kredit sehingga transmisi kenaikan suku bunga ke bunga kredit dilakukan secara terbatas.
"Rata-rata kenaikan bunga kredit BCA hingga semester I relatif kecil. Secara kuartalan, bunga kredit hanya meningkat sekitar 4 basis poin, jauh lebih rendah dibandingkan kenaikan BI Rate yang telah mencapai 100 basis poin," ujar Vera dalam konferensi pers paparan kinerja keuangan semester I 2026.
Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, menambahkan penyesuaian bunga pinjaman bergantung pada siklus jatuh tempo kredit dan dilakukan secara selektif. "Kita tidak menaikkan di semua nasabah. Kita hanya menaikkan kepada nasabah yang dari sisi bisnis masih bisa untuk kita naikkan. Untuk nasabah yang rate-nya sudah tinggi, kita tidak naikkan," jelas Hendra.
Direktur BCA John Kosasih mengungkapkan prospek pertumbuhan kredit hingga akhir tahun masih didukung oleh pipeline pembiayaan di sejumlah sektor. Permintaan kredit untuk modal kerja dan investasi disebut masih cukup kuat.
Berikut sektor-sektor yang menjadi andalan BCA pada semester II 2026:
John mengatakan pertumbuhan kredit pada semester I juga didorong oleh meningkatnya penggunaan fasilitas kredit, baik untuk kebutuhan modal kerja maupun investasi. "Permintaan pembiayaan dari sejumlah sektor usaha masih cukup kuat dan diharapkan terus menopang pertumbuhan kredit pada semester II 2026," ujarnya.